Sabtu, 14 April 2018

teori pemrosesan informasi berbantuan media

  Hasil gambar untuk teori pemrosesan informasi berbantuan media
 
A.    Pembelajaran Berbantuan Multimedia 
 
Multimedia mengandung unsur komputer. Multimedia memberikan kesempatan untuk belajar tidak hanya dari satu sumber seperti guru, akan tetapi memberikan kesempatan kepada subyek mengembangkan kognitif dengan lebih baik, kreatif, dan inovatif. Meyer (2009:3) mendefinisikan multimedia sebagai presentasi materi dengan menggunakan kata-kata sekaligus gambar-gambar. Yang dimaksud dengan “kata” adalah materinya disajikan dalam bentuk verbal (verbal form), misalnya menggunakan teks kata yang tercetak atau terucapkan. Sedangkan yang dimaksud dengan “gambar” adalah materi disajikan dalam bentuk gambar (pictorial form).
Menurut Constantinescu (2007: 2), “Multimedia refers to computer-based systems that use various types of content, such as text, audio, video, graphics, animation, and interactivity”. Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur atau lebih yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video, dan animasi secara terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu multimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah suatu multimedia yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan oleh pengguna. Sedangkan multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna, sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya. Contoh multimedia interaktif adalah: multimedia pembelajaran interaktif, aplikasi game, dan lain-lain.
Pembelajaran diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar. Belajar dalam pengertian aktivitas mental siswa dalam berinteraksi dengan lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan. Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktivitas belajar dan pembelajaran adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan menata unsur-unsurnya sehingga dapat merubah perilaku siswa.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbantuan multimedia dapat diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran, dengan kata lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, ketrampilan dan sikap) serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan yang belajar sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali.
B.     Teori Pembelajaran Pemrosesan Informasi Robert Gagne
Robert. M. Gagne sebagaimana yang dikutip oleh Bambang Warsita, dalam bukunya: The Conditioning of Learning mengemukakan bahwa” Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth”. Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja. Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan (kondisi) (Warsito, 2008: 66).
Penjelasan lebih lanjut dari Bambang Warsita, bahwa berdasarkan kondisi internal dan eksternal ini, Gagne menjelaskan bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut:
1. Rangsangan yang diterima panca indera akan disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2. Informasi dipilih secara selektif, ada yang dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori ini tercampur dengan memori yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan pengolahan (Warsito,
2008; 69)
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.
 
C.    Model Pemrosesan Informasi
Model proses kontrol pemrosesan informasi dapat diliha pada Gambar di bawah ini
Gambar 1. Model proses kontrol pemrosesan informasi (Meyer 2009: 68)
a. Short-Term Sensory Store
Sistem ini berfungsi untuk menyimpan sejumlah besar informasi yang diterima dalam waktu yang singkat. Kompartemen dari sistem ini memerima tampa mencatatnya, dan dalam waktu yang singkat akan hilang karena penambahan informasi baru. Hal ini dapat kita andaikan , sebuah setrika yang sudah agak panas yang kemudian panasnya berkurang dan sama sekali “hilang”. Sistem tersebut akan diterpa oleh berbbagai bentuk stimulus-penglihatan, perabaan, pendengaran, kinesthesis, dan seterusnya. Terdapat kemungkinan, berbagai rangsang sensoris yang berasal dari luar itu diterima secara simultan dan masing masing rangsang tersimpan selama waktu yang singkat.
b. Short-Term Memory
Informasi yang masuk pada sistem penyimpangan jangka pendek tidak semua diproses pada tahap berikutnya, karena adanya penyaringan terhadap informasi yang relevan dan tidak relevan. Proses seleksi ini ditentukan oleh kondisi tugas yang dilakukan seseorang (misalnya mengamati perjalanan shuttlecock dalam permainan bulu tangkis) atau oleh momen tertentu dalam suatu tugas (mula – mula penglihatan, kemudian pendengaran seperti kerasnya suara”cocok” dipukul). Informasi yang akan diproses ketahap berikutnya ialah karena kesesuaian dengan suatu situasi untuk diproses kedalam sistem memori jangka pendek (STM). Memori ini merupakan tempat penyimpanan informasi, bagi yang berasal dari Short-Term Sensory Store (STSS) maupun yang berasal dari Long-term Memory (LTM).
c. Long-term Memory
Kompartemen memori jangka pendek jangka panjang adalah jumlah waktu dari informasi yang dapat disimpan selain kemempuan menyimpan informasi. Bedasarkan teori kotak memori dapat dijelaskan bahwa aktifitas memproses informasi disalurkan dari penyimpanan jangka pendek ke penyimpanan jangka panjang, dimana informasi akan tersimpan secara permanen supaya tidak hilang
(Budiningsih, 2005: 82)
D.    Model Pemrosesan Informasi dari Gagne dan Berliner
Gambar 2 Model pemrosesan informasi dari Gagne dan Berliner
Keterangan:
1. Sensory Receptor (SR)
SR adalah sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya bertahan dalam waktu yang sangat singkat dan mudah tergangu atau berganti.
2. Working Memory (WM)
WM diasumsikan mampu menangkap informasi yang mendapat perhatian individu, perhatian dipengaruhi oleh persepsi. Karekateristik WM, memiliki kapasitas terbatas + 7 slots dan hanya bertahan 15 detik jika tidak diadakan pengulangan, dan informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya.
3. Long Term Memory (LTM)
LTM diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oelh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Sedangkan lupa adalah proses gagalnya memunculkan kembali informasi yang diperlukan. Tennyson mengemukakan proses penyimpanan informasi merupakan proses mengasimilisasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi sebagai dadar pengetahuan.



  Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku seseorang dalam situasi tertentu yang disebabkan oleh “pengalaman berulang” terhadap situasi tersebut. Dalam tinjauan psikologi kognitif belajar diartikan sebagai The process of acquiring knowledge (proses memperoleh pengetahuan).  Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman hidup yang dialami oleh si pelajar agar menjadi mandiri. Belajar erat kaitannya dengan pengembangankognitif (penguasaan intelektual), afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) danpsikomotorik (keterampilan bertindak atau berprilaku). Dalam pandangan pakar psikologi belajar kognitifis, keberhasilan belajar di ukur oleh kematangan kognisi si pelajar, dalam hal ini otak sebagai organ tubuh yang berkaitan dengan intelejensi, menjadi sangat dominan sebagai pusat memori.

Teori pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti psikologi kognitif, bagi sibernetik mengkaji proses belajar  penting dari hasil belajar, namun yang lebih penting  dari kajian proses belajar itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada akhirnya akan menentukan proses belajar.
      Teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu proses belajar pun yang ideal untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa. Asumsi ini didasarkan pada suatu pemahaman yaitu cara belajar sangat ditentukan oleh sistem informasi. Dengan penjelasan saat seorang siswa dapat memperoleh informasi dengan satu proses dan siswa yang lain juga dapat memperoleh informasi yang sama namun dengan proses belajar yang berbeda.
      Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
       Menurut Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi; (2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6) generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.

Dalam upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989).
Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah Sensory receptor, Working memory dan Long tern memory.
Sedangkan proses control diasumsikan sebgai strategi yang tersimpan didalam ingatan dan dapat dipergunakan setiap saat di perlukan.
Ø  Pengertian Teori Pemrosesan Informasi
Teori pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak melalui beberapa indera.
Komponen pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan hilang.
Keberadaan register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan. Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Interpretasi seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan banyak faktor lain.
Informasi yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Memori jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita, memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan fakta dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Dalam upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima, disandi, disimpan dan dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson (1989). Teori-teori tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992) yaitu:
a.       Bahwa antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi dimana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b.      Stimulus yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk ataupun isinya.
c.        Salah satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari ketiga asumsi tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan pengatur alur pemrosesan informasi (proses control). Kompenen pemrosesan dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi, serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1.      Sensory receptor
Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. informasi  masuk  ke  sistem  melalui  sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar  tetap berada dalam  sistem, informasi  masuk  ke  working  memory  yang  digabungkan dengan informasi di long-term memory.
2.      Working memory
Pengerjaan atau operasi  informasi berlangsung di working memory. Disini, berlangsung proses berpikir secara sadar. Working Memory (WM) diasumsikan mampu menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu. Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi. Karakteristik WM adalah bahwa; 1) ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih kurang 7 slots. Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa upaya pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Asumsi pertama berkaitan dengan penataan jumlah informasi, sedangkan asumsi kedua berkaitan dengan peran proses kontrol. Artinya, agar informasi dapat bertahan dalam WM, maka upayakan jumlah informasi tidak melebihi kapasitas WM disamping melakukan rehearsal. Sedangkan penyandian pada tahapan WM, dalam bentuk verbal, visual, ataupun semantik, dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat dengan sadar mengendalikannya.
3.      Long term memory
Long Term Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telahdimiliki oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Kelemahannya  adalah  betapa  sulit  mengakses  informasi  yang tersimpan di dalamnya. Persoalan “lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi yang diperlukan. Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan proses penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan. Dikemukakan oleh Howard (1983) bahwa informasi disimpan di dalam LTM dalam bentuk prototipe, yaitu suatu struktur representasi pengetahuan yang telah dimiliki yang berfungsi sebagai kerangka untuk mengkaitkan pengetahuan baru. Dengan ungkapan lain, Tennyson (1989) mengemukakan bahwa proses penyimpanan informasi merupakan proses mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan (knowledge base) (Lusiana, 1992).
            Sejalan dengan teori pemrosesan informasi, Ausubel (1968) mengemukakan bahwa perolehan pengetahuan baru merupakan fungsi srtuktur kognitif yang telah dimiliki individu. Reigeluth dan Stein (1983) mengatakan pengetahuan ditata didalam struktur kognitif secara hirarkhis. Ini berarti pengetahuan yang lebih umum dan abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh individu dapat mempermudah perolehan pengetahuan baru yang rinci Proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai dari proses penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan informasi (storage), dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrieval). Ingatan terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses penelusuran bergerak secara hirarkhis, dari informasi yang paling umum dan inklusif ke informasi yang paling umum dan rinci, sampai informasi yang diinginkan diperoleh.
            Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :
1.      Menarik perhatian
2.      Memberitahukan tujuan pembelajaran kepada siswa
3.      Merangsang ingatan pada pra syarat belajar
4.      Menyajikan bahan peransang
5.      Memberikan bimbingan belajar
6.      Mendorong unjuk kerja
7.      Memberikan balikan informatif
8.      Menilai unjuk kerja
9.      Meningkatkan retensi dan alih belajar
Dalam mengartikan penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan media pengantar, desain pesan,  serta kemampuan sensorik. Media pengantar mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian animasi  atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses penerimaan informasi visual atau auditorial.
            Sebagai contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya istilah desain pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi dari sebuah pola tanda yang  memungkinkan untuk mengkondisi  pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan  bukti bahwa desain pesan yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi .
            Beberapa teori yang melandasi perancangan desain  pesan multimedia instruksional ialah teori  pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas memori kerja visual dan  memori kerja auditori. Teori muatan kognitif menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas. Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan . Temuan-temuan penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory): terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
        Menurut model tingkat pemrosesan, berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai contoh, informasi yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi dengan pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada stimuli atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang menjadi perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam daripada stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya (Craik & Lockhart, 2002).
Ø  Manfaat dan Hambatan Teori Pemrosesan Informasi
1. Manfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
1.  Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi pada lingkungan yang selalu berubah
2.  Menjadikan strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada proses lebih menonjol
3.      Kapasilitas belajar dapat disajikan secara lengkap
4.      Prinsip perbedaan individual terlayani.
2. Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
1.      Tidak semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2.      Proses internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3.      Tingkat kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam ingatan
4.      Kemampuan otak tiap individu tidak sama.
 
PERMASALAHAN
 
1. Apakah bisa suatu informasi yang masuk pada sensory receptor dapat menjadi informasi yang masuk pada long term memory? jika bisa, bagaimana hal tersebut dapat terjadi?  
 
2. Bagaimana memunculkan informasi yang ada di memori jangka pendek agar menjadi memori jangka panjang?
 
 
SUMBER
Anonim.2011. Teori-Pemrosesan-Informasi. https://blogzulkifli.wordpress.com/2011/06/08/teori-pemrosesan-informasi/
Anonim.2014. Teori-Pemrosesan-Informasi-.http://rini0594.blogspot.co.id/2014/03/teori-pemrosesan-informasi-dalam.html
Craik, F. I. M., Lockhart. R. S. 2002. Levels of Processing. New York:  Cyber Pasific

Slavin, R.E. 2000. Educational Psychology, Theory and Practice. United State of America: Allyn & Bacon
http://dewisugiarti122.blogspot.co.id/2017/02/teori-pemrosesan-informasi-berbantuan_70.html

30 komentar:

  1. Saya akan mencoba menjawab permasalahan anda yang ke-2 Ketika kita mampu mengolah suatu informasi atau suatu pengetahuan “saat ini” hal tersebut menandakan bahwa LTM kita sedang berfungsi. Dengan adanya LTM kita akan lebih mampu mengingat masa lalu dan masa kini.

    Lantas, dimanakah memori-memori tersebut disimpan? Banyak sekali studi-studi yang mencoba untuk mencari jejak-jejak memori kita. Seperti teknik pencitraan otak (pemindaian PET, MRI, dan perekaman EEG), probing elektrik ke dalam otak , atau bahkan menggunakan senyawa-senyawa kimiawi dalam bentuk obat-obatan, dan lain sebagainya. Lokasi tempat memori disimpan adalah diseluruh bagian otak, dengan pusat-pusat tertentu. Dalam pembentukan memori, terdapat beberapa bagian otak yang bekerja seperti hipokampus dan korteks. Rekognisi memori dipengaruhi oleh tingkat penyandian awal, yakni ketika peristiwa tersebut terjadi dan pengulangannya. Sejumlah pengalaman lebih mudah diingat dibandingkan dengan pengalaman yang lain. Sebagai contoh pengalaman menyenangkan, melibatkan ego, atau yang bersifat traumatik akan lebih mudah diingat oleh kita dan bertahan lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. terimakasih atas pendapat anda , Rekognisi memori dipengaruhi oleh tingkat penyandian awal, yakni ketika peristiwa tersebut terjadi dan pengulangannya. Sejumlah pengalaman lebih mudah diingat dibandingkan dengan pengalaman yang lain. Sebagai contoh pengalaman menyenangkan, melibatkan ego, atau yang bersifat traumatik akan lebih mudah diingat oleh kita dan bertahan lama.

      Hapus
  2. Saya akan menambahkan jawaban dari permaslahan nomor 2, yg mana. Ingtan sensoris menyimpan informasi dari dunia dalam bentik sensoris aslinya dalam sekejap. Tidak lebih lama dari waktu yang singkat pada saat informasi itu sampai pada indra penglihatan, pendengaran atau indra lainnya. Ingatan sensoris sangat kaya dan detail, tetapi informasi ini akan hilang dengan cepat kecuali kita menggunakan strategi tertentu untuk menyalurkan ke ingatan jangka pendek atau jangka panjang.



    Ingatan jangka pendek ( shot term memory) adalah sistem ingatan dengan kapasitas terbatas saat informasi dipertahankan selama sekitar 30 detik, kecuali ada strategi tertentu untuk mempertahankannya lebih lama. Dibandingkan dengan ingatan sensoris, ingatan jangka pendek terbatas dalam hal kapasitasnya, tetapi dapat menyimpan informasi untuk jangka waktu yang lebih lama.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya saya setuju , bisakah anda jelaskan beserta dengan sumber nya

      Hapus
  3. Saya akan menambahkan jawaban dari permaslahan nomor 2, yg mana. Ingtan sensoris menyimpan informasi dari dunia dalam bentik sensoris aslinya dalam sekejap. Tidak lebih lama dari waktu yang singkat pada saat informasi itu sampai pada indra penglihatan, pendengaran atau indra lainnya. Ingatan sensoris sangat kaya dan detail, tetapi informasi ini akan hilang dengan cepat kecuali kita menggunakan strategi tertentu untuk menyalurkan ke ingatan jangka pendek atau jangka panjang.



    Ingatan jangka pendek ( shot term memory) adalah sistem ingatan dengan kapasitas terbatas saat informasi dipertahankan selama sekitar 30 detik, kecuali ada strategi tertentu untuk mempertahankannya lebih lama. Dibandingkan dengan ingatan sensoris, ingatan jangka pendek terbatas dalam hal kapasitasnya, tetapi dapat menyimpan informasi untuk jangka waktu yang lebih lama.

    BalasHapus
  4. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang pertama. Tentu bisa karena sensory reseptor saling keterkaitan dengan pemrosesan informasi yang diterima dan melalui beberapa tahapan agar sampai ke long-term memory yaitu melalui short-term memory terlebih dahulu dan memori kerja.
    Semua informasi sensoris (kecuali bau yang langsung menuju amygdala dan tujuan-tujuan lainnya) pertama kali dikirimkan ke thalamus, yang secara singkat memonitor sifat dan kekuatan impuls-impuls sensoris untuk mengetahui daya tahan konten informasi yang dibawanya dan hanya dalam waktu milidetik (seperseribu detik), menggunakan pengalaman yang sebelumnya dimiliki individu, menentukan tingkat kepentingan data.
    Penyimpanan sensoris merupakan register sensoris yang menyimpan informasi dalam waktu yang sangat singkat (kurang dari satu detik).
    Perbedaan memori jangka panjang dan penyimpanan jangka panjang adalah memori jangka panjang mengacu pada proses penyimpanan dan mengambil/mengingat informasi sedangkan penyimpanan jangka panjang mengacu pada area dalam otak tempat memori disimpan.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya memang benar Semua informasi sensoris (kecuali bau yang langsung menuju amygdala dan tujuan-tujuan lainnya) pertama kali dikirimkan ke thalamus, yang secara singkat memonitor sifat dan kekuatan impuls-impuls sensoris untuk mengetahui daya tahan konten informasi yang dibawanya dan hanya dalam waktu milidetik (seperseribu detik), menggunakan pengalaman yang sebelumnya dimiliki individu, menentukan tingkat kepentingan data.

      Hapus
  5. Saya mencoba menjawab pertanyaan no.2, berdasarkan literatur yg saya baca proses masuknya informasi ke dalam ingatan jangka panjang tetap melalui tahap memori sensoris. Pada tahap ini informasi dari luar yang diterima oleh indera diubah menjadi impuls-impuls neural sesuai dengan masing-masing fungsi indera, kemudian impuls-impuls neural yang mengandung informasi ini diteruskan ke ingatan jangka pendek. Setelah informasi masuk ke dalam ingatan jangka pendek, di seleksi sedemikian rupa mana yang dianggap penting dan tidak, kemudian diteruskan ke ingatan jangka panjang.
    Sebelum masuk ke ingatan jangka panjang, informasi yang telah disaring pada ingatan jangka pendek, perlu dilakukan proses semantic atau imagery coding. Jadi, ingatan jangka panjang akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat dan sebagainya, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen. Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam memori jangka panjang adalah untuk Anda ingat selamanya. 

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya saya setuju , memang benar ingatan jangka panjang akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat dan sebagainya

      Hapus
  6. saya ingin mencoba menjawab pertanyaan pertama saudari. suau informasi sebelum masuk ke long term memory memang akan melalui sensory dahulu dimana informasi diterima oleh alat indera baru kemudian informasi akan masuk ke short term memory setelah itu dilanjutkan ke long term memory. di long term memory inilah informasi disimpang dalam jangka panjang sehingga ketika mendapatkan rangsangan dari luar yang ada kaitannya dengan informasi ini maka otak akan berusaha mengingat informasi ini kaena informasi yang tersimpan tidak akan hilang, jadi sangat erat kaitannya informasi tidak akan sampai ke penyimpanan jangka pannjang jika tida melewati reseptor sensorik.

    BalasHapus
    Balasan
    1. jadi apakah ada seseuatu cara atau media agar siswa dapat memory long term?

      Hapus
  7. saya akan mencoba menjawab pertanyaan permasalahan nomor 1 :
    menurut saya bisa dikarenakan Sensori receptor merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Informasi masuk ke system melalui sensori register di dalam sarana informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dlam waktu yang sangat singkat dan informasi mudah terganggu. Karena melalui sensori receptor perlu sarana informasi supaya dapat mudah ditangkap dalam bentuk aslinya. setelah masuk ke sensori reseptor informasi tidak akan bertahan lama , masuk ke Working memori merupakan pengerjaan atau operasi berlangsung di working memori. Karena disini, berlangsungnya proses berfikir anak secara sadar. Jadi anak usia dini dalam melakukan sesuatu yang akan dilakukan seperti menggunakan media dalam belajar dilakukan secara sadar karena dapat menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu anak.kemudian baru masuk ke long term memory yang diasumsikan yaitu berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, mempunyai kapasitas tidak terbatas karena informasi yang disimpan dalam long term memori ini tidak akan pernah terhapus ataupun hilang. Karena informasi yang diberikan pada anak usia dini ditata dengan baik supaya memudahkan proses pembelajaran dalam informasi yang diperlukan oleh anak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya saya setuju berlangsungnya proses berfikir anak secara sadar. Jadi anak usia dini dalam melakukan sesuatu yang akan dilakukan seperti menggunakan media dalam belajar dilakukan secara sadar karena dapat menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu anak.kemudian baru masuk ke long term memory yang diasumsikan yaitu berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, mempunyai kapasitas tidak terbatas karena informasi yang disimpan dalam long term memori ini tidak akan pernah terhapus ataupun hilang.

      Hapus
  8. Saya akan mencoba menjawab permasalahan no 1
    Menurut saya bisa dengan cara melatih otak kita agar setiap rangsangam yang diterima oleh reseptor atau alat indera kita agar segera dioleh dan dihubungkan dengan pengetahuan kita yang lama agar dapat diolah menjadi pengetahuan baru yang lebih luas. Kemudia setiap ilmu yang kita dapat diulang serta disandikan atau dikode menjadi pengetahuan yang lebih mudah diingat atau dipahami. Dengan begitu tentu pengetahuan tersebut akan menjadi pengetahuan yang tersimpan dimemori jangka panjang kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya terimakasih atas ulasan anda tentang permasalahan yang telah saya paparkan , ya memang sesuatu yang diulang ylang akan membantu dalam memori long term

      Hapus
  9. Saya mencoba menjawab pertanyaan no.2, berdasarkan literatur yg saya baca proses masuknya informasi ke dalam ingatan jangka panjang tetap melalui tahap memori sensoris. Pada tahap ini informasi dari luar yang diterima oleh indera diubah menjadi impuls-impuls neural sesuai dengan masing-masing fungsi indera, kemudian impuls-impuls neural yang mengandung informasi ini diteruskan ke ingatan jangka pendek. Setelah informasi masuk ke dalam ingatan jangka pendek, di seleksi sedemikian rupa mana yang dianggap penting dan tidak, kemudian diteruskan ke ingatan jangka panjang.
    Sebelum masuk ke ingatan jangka panjang, informasi yang telah disaring pada ingatan jangka pendek, perlu dilakukan proses semantic atau imagery coding. Jadi, ingatan jangka panjang akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat dan sebagainya, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen. Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam memori jangka panjang adalah untuk Anda ingat selamanya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya memang benar , karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen. Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam memori jangka panjang adalah untuk Anda ingat selamanya.

      Hapus
  10. Saya akan menjawab permasahan pertama Short Term Memory sering kali mengacu sebagai memori kerja karena kegunaannya di berbagai aktivitas mental. Memori kerja adalah sistem untuk menyimpan sementara dan mengelola informasi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas kognitif kompleks seperti belajar, penalaran, dan pemahaman. Memori kerja berbeda dari Short Term Memory dalam hal penyimpanan dan manipulasi informasi, dan dalam penekanan pada peran fungsionalnya dalam kognisi kompleks

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya saya setuju , tapi saya masih ragu mungkin belum terlalu detail tentang hal penyimpanan dan manipulasi informasi, dan dalam penekanan pada peran fungsionalnya dalam kognisi kompleks

      Hapus
  11. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang nomor 1. Tentu saja bisa karena sensory reseptor saling keterkaitan dengan pemrosesan informasi yang diterima dan melalui beberapa tahapan agar sampai ke long-term memory yaitu melalui short-term memory terlebih dahulu dan memori kerja.
    Semua informasi sensoris (kecuali bau yang langsung menuju amygdala dan tujuan-tujuan lainnya) pertama kali dikirimkan ke thalamus, yang secara singkat memonitor sifat dan kekuatan impuls-impuls sensoris untuk mengetahui daya tahan konten informasi yang dibawanya dan hanya dalam waktu milidetik (seperseribu detik), menggunakan pengalaman yang sebelumnya dimiliki individu, menentukan tingkat kepentingan data.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya benar , tapi bisakah anda jelaskan beserta sumber terpecaya?

      Hapus
  12. Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang nomor 1. Tentu saja bisa karena sensory reseptor saling keterkaitan dengan pemrosesan informasi yang diterima dan melalui beberapa tahapan agar sampai ke long-term memory yaitu melalui short-term memory terlebih dahulu dan memori kerja.
    Semua informasi sensoris (kecuali bau yang langsung menuju amygdala dan tujuan-tujuan lainnya) pertama kali dikirimkan ke thalamus, yang secara singkat memonitor sifat dan kekuatan impuls-impuls sensoris untuk mengetahui daya tahan konten informasi yang dibawanya dan hanya dalam waktu milidetik (seperseribu detik), menggunakan pengalaman yang sebelumnya dimiliki individu, menentukan tingkat kepentingan data.

    BalasHapus
  13. Baiklah saya akan menjawab permasalahan nomer 2..sebenarya ada banyak cara guru untuk memunculkan ingatan memori jangka pendek kita ke dalam memori jangka panjang kita.misalmya ketika guru masuk kepada materi yang selanjutnya,sebaik nya guru mengulas sedikit materinyang suddah di ajarkan kemarin agar supaya siswa nya terangsang untuk menginat memori jangka pendek nya ke dalam memori jangka panjang nya

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya memang setuju , apalagi disertai dengan media yang meningkatkan minat dari siswa

      Hapus
  14. saya akan menambahkan sedikit tentang permasalahan yang pertama, jadi menurut saya tentu saja bisa yaitu dengan cara agar informasi atau ilmu yang kita terima dapat masuk ke dalam memori jangka panjang adalah dengan mengulang-ulang pelajaran yang telah kita lakukan, jadi maksud nya disini adalah kalau sudah belajar yang kita pelajari sebaiknya diulangi lagi. jangan cuma sewaktu disekolah mempelajarinya. memang informasi yang diterima itu masuk ke dalam sensori memori. kemudian kalau selalu kita ulangi maka akan masuk dalam memori jangka pangjang.

    BalasHapus
    Balasan
    1. ya ,memang benar apalagi seorang guru yang mampu mengatur pembelajaran dengan lebih baik disertai dengan media

      Hapus
  15. Saya akan mencoba menjawab permasalahan kedua. Perlu diketahui bahwa lupa dapat terjadi karena kurang fokus atau informasi yang tidak diproses lebih lanjut. Jadi untuk mengubah memori jangka pendek ke jangka panjang yaitu dengan membuat peserta didik mengerti dan paham dengan baik akan materi yang diajarkan dan terus melakukan pengulangan dimana turut ditunjang media pembelajaran yang menarik.

    BalasHapus
  16. Saya akan mencoba menjawab permasalahan kedua. Perlu diketahui bahwa lupa dapat terjadi karena kurang fokus atau informasi yang tidak diproses lebih lanjut. Jadi untuk mengubah memori jangka pendek ke jangka panjang yaitu dengan membuat peserta didik mengerti dan paham dengan baik akan materi yang diajarkan dan terus melakukan pengulangan dimana turut ditunjang media pembelajaran yang menarik.

    BalasHapus
  17. Dari permasalahan nomor 2.menurut saya, memori jangka pendek akan menjadi memori jangka panjang apabila kita sering mengulang ngulang materi yang telah dipelajari disekolah dipelajari dirumah dengan telaten dan berangsur angsur.

    BalasHapus
  18. Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.

    BalasHapus