Seperti yang kita telah ketahui
bahwa, pada umumnya multimedia sangat membantu guru dalam menyampaikan materi.
Multimedia terdiri dari tiga level yaitu didasarkan pada alat-alat yang
digunakan untuk mengirimkan pesan (media pengirimannya), format-format
representasi yang digunakan untuk menyajikan pesan (mode-mode presentasinya
seperti gambar, teks dan lain-lain), dan modalitas inderawi yang digunakan oleh
pengguna/siswa untuk menerima pesan (pancaindera).
Menurut (Mayer,2009) bahwa prinsip
multimedia berbunyi murid bisa belajar lebih baik dari kata-kata dan gambar-gambar
dari pada dari kata-kata saja. Yang dimaksudkan dengan kata-kata adalah teks
tercetak di layar yang dibaca pengguna atau teks ternarasikan yang didengar
pengguna melalui speaker atau headset. Yang dimaksudkan dengan gambar adalah
ilustrasi statis seperti gambar, diagram, grafik, peta, foto, atau gambar
dinamis seperti animasi dan video.
Dalam hal ini, Siswa yang
berpengetahuan lebih tinggi bisa menggunakan pengetahuan yang dimiliki
sebelumnya untuk mengkompensasi atas kurangnya petunjuk dalam presentasi. Siswa
yang berpengetahuan rendah kurang bisa melakukan pemrosesan kognitif yang
berguna saat presentasinya kurang petunjuk.
Berkaitan dengan ini, maka jenis
multimedia, program multimedia yang akan dikembangkan oleh peneliti adalah
multimedia interkatif yang bersifat on line, dan dari segi bentuknya
berupa multimedia yang berisi tutorial dan problem solving.
Beberapa prinsip yang harus
diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran meliputi: prinsip kesiapan
dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, pengulangan, partisipasi aktif
peserta didik, dan umpan balik.
Penggunaan alat pemusat perhatian
dalam media pembelajaran dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik
untuk fokus terhadap materi pelajaran.
Informasi atau keterampilan baru
jarang sekali dapat dikuasai secara maksimal hanya dengan satu kali proses
belajar. Agar penguasaan terhadap informasi atau keterampilan baru tersebut
dapat lebih optimal, maka perlu dilakukan bebrapa kali pengulangan. Prinsip
pengulangan ini harus diperhatikan dalam mengembangkan media pembelajaran.
Proses belajar mengajar akan lebih
berhasil manakala terjadi interaksi dua arah antara pengajar dan peserta didik.
Partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman
dan penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu media pembelajaran yang
digunakan hendaknya mampu menimbulkan keterlibatan peserta didik secara aktif
(interaktif) dalam proses belajar.
Prinsip-Prinsip Multimedia
Pembelajaran
Dalam hal ini, pada dasarnya setiap
peserta didik memiliki potensi yang berbeda beda antara yang satu terhadap yang
lainnya.
Menurut
Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat diterapkan di
Pembelajaran.
12 Prinsip Merancang Multimedia
Pembelajaran, yaitu :
1. Prinsip Multimedia
Pada prinsip ini orang belajar lebih baik dari gambar dan kata dari pada
sekedar kata-kata saja. Karena dinamakan multimedia berarti wajib mampu
mengkombinasikan berbagai media (teks, gambar, grafik, audio/narasi, video,
animasi, simulasi, dll) menjadi satu kesatuan yang harmonis.
2.Prinsip Kesinambungan Spasial
Pada prinsip ini orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar
terkait disandingkan berdekatan dibandingkan apabila disandingkan berjauhan
atau terpisah. Oleh karena itu, ketika ada gambar (or sodarenye nyang laen
seperti video, animasi, dll) yang dilengkapi dengan teks, maka teks tersebut
harus merupakan jadi satu kesatuan dari gambar tersebut, jangan menjadi sesuatu
yang terpisah.
3. Prinsip Kesinambungan Waktu
Pada prinsip ini, orang belajar lebih baik ketika kata dan gambar terkait
disajikan secara simultan dibandingkan apabila disajikan bergantian atau
setelahnya. Jika suatuketika ingin
memunculkan suatu gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks,
misalnya, sebaiknya munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan
satu-satu, sebab akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama
lain. Begitu kata Mayer.
4. Prinsip Koherensi
Pada prinsip ini, orang belajar lebih baik ketika kata-kata, gambar, suara,
video, animasi yang tidak perlu dan tidak relevan tidak digunakan. Banyak
sekali pengembang media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin
maksudnya untuk mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik
perhatian mata. Tapi, menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan
saja apa yang perlu dan relevan dengan apa yang disajikan.
5. Prinsip
Modalitas Belajar
Pada prinsip ini, orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk
video), dari pada dari animasi plus teks
pada layar
6.
Prinsip Redudansi
Pada prinsip ini, orang belajar lebih baik dari animasi dan narasi termasuk
video), daripada dari animasi, narasi plus teks pada layar (redundan).
Sama dengan prinsip di atas. Jangan redudansi, kalau sudah diwakili oleh narasi
dan gambar/animasi, janganlah tumpang tindih pula dengan teks yang
panjang.
7. Prinsip Personalisasi
Pada prinsip ini, orang belajar lebih baik dari teks atau kata-kata yang
bersifat komunikatif (conversational) daripada kalimat yang lebih bersifat
formal.
8
8. Prinsip Interaktivitas
Pada prinsip ini, orang belajar lebih baik ketika ia dapat mengendalikan
sendiri apa yang sedang dipelajarinya (manipulatif: simulasi, game,
branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak selalu linier alias urut
satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat dari satu hal ke hal lain.
Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus memungkinkan user/pengguna dapat
mengendalikan penggunaan dari pada media itu sendiri. dengan kata lain, lebih
manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan sendiri oleh user) akan lebih
baik.
9. Prinsip Sinyal
Pada prinsip ini, orang belajar lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan
cue, highlight, penekanan yang relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa
memanfaatkan warna, animasi dan lain-lain untuk menunjukkan penekanan,
highlight atau pusat perhatian (focus of interest).
10. Prinsip Perbedaan
Individu
9
Prinsip diatas yang telah dijabarkan, berpengaruh kuat bagi mereka yang
memiliki modalitas visual tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
Kombinasi teks dan narasi plus visual berpengaruh kuat bagi mereka yang
memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki
modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
11. Prinsip
Praktek
Pada prinsip
ini, interaksi adalah hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan
masalah dapat meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam
tentang materi yang sedang dipelajari.
12.
Pengandaian
Bagain yang terakhir yaitu pengandaian yang menjelaskan materi dengan audio
meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi dan narasi,
daripada dari animasi dan teks pada layar.
.
Prinsip – prinsip pembelajaran berbasis multimedia
- Prinsip multimedia : siswa bisa belajar lebih baik dengan kata-kata dan gambar-gambar dibandingkan dengan hanya kata-kata atau gambar saja.
- Prinsip multimedia : siswa bisa belajar lebih baik dengan kata-kata dan gambar-gambar dibandingkan dengan hanya kata-kata atau gambar saja.
- Prinsip keterdekatan waktu : siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata dan gambar-gambar yang terkait disajikan secara simultan (bersamaan) daripada bergantian.
- Prinsip koherensi : siswa bisa belajar lebih baik saat kata-kata, gambar-gambar atau suara-suara ekstra dibuang.
- Prinsip modalitas : siswa bisa belajar lebih baik pada animasi dan narasi daripada animasi dan teks pada layar.
- Prinsip redundansi : siswa bisa belajar lebih baik dari animasi dan narasi daripada dari animasi, narasi, dan teks pada layar.
- Prinsip perbedaan individual : pengaruh desain lebih kuat terhadap siswa berpengetahuan rendah daripada berpengetahuan tinggi, dan terhadap siswa berkemampuan spasial tinggi daripada berspasial rendah.
Prinsip-Prinsip
Pembelajaran Multimedia
Rosch menyatakan bahwa multimedia adalah kombinasi dari komputer dan video.
Sementara Mc. Cormick mendefinisikan multimedia sebagai kombinasi dari tiga
elemen, yaitu suara, gambar, dan teks. Robin & Linda mengartikan multimedia
sebagai alat yang dapat menciptkakan presentasi yang dinamis dan interaktif
yang mengkombinasikan teks, grafik, animasi, auido, dan gambar video (Suyanto,
2003: 5).Ade Cahyana dan Devi Munandar (2008) memberikan definisi teknologi
multimedia sebagai perpaduan dari teknologi komputer baik perangkat keras
maupun perangkat lunak dengan teknologi elektronik. Menurut keduanya sekarang
ini perkembangan serta pemanfaatan teknologi multimedia banyak digunakan hampir
di seluruh aspek kegiatan.
Rosch menyatakan bahwa multimedia
adalah kombinasi dari komputer dan video. Sementara Mc. Cormick mendefinisikan
multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen, yaitu suara, gambar, dan teks.
Robin & Linda mengartikan multimedia sebagai alat yang dapat menciptkakan
presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik,
animasi, auido, dan gambar video (Suyanto, 2003: 5).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh
Richard E. Mayer (2001) menunjukan bahwa anak didik kita memiliki potensi
belajar yang berbeda-beda. Kini dunia pendidikan makin maju, dapatkah modalitas
belajar siswa yang berbeda-beda ini dibawa dalam sebuah teknologi Multimedia?
Menurut Mayer ada 12 prinsip desain multimedia pembelajaran yang dapat
diterapkan di Pembelajaran.
12 Prinsip Merancang Multimedia Pembelajaran, yaitu :
1) Prinsip
Multimedia
Orang belajar
lebih baik dari gambar dan kata dari pada sekedar kata-kata saja. Karena
dinamakan multimedia berarti wajib mampu mengkombinasikan berbagai media (teks,
gambar, grafik, audio/narasi, video, animasi, simulasi, dll) menjadi satu
kesatuan yang harmonis. Sebab kalau tidak namanya bukan multimedia tapi
single-media.
2) Prinsip
Kesinambungan Spasial
Orang belajar
lebih baik ketika kata dan gambar terkait disandingkan berdekatan dibandingkan
apabila disandingkan berjauhan atau terpisah. Oleh karena itu, ketika ada
gambar (or sodarenye nyang laen seperti video, animasi, dll) yang dilengkapi
dengan teks, maka teks tersebut harus merupakan jadi satu kesatuan dari gambar
tersebut, jangan menjadi sesuatu yang terpisah.
3) Prinsip
Kesinambungan Waktu
Orang belajar
lebih baik ketika kata dan gambar terkait disajikan secara simultan
dibandingkan apabila disajikan bergantian atau setelahnya. Nah, ketika Anda
ingin memunculkan suatu gambar dan atau animasi atau yang lain beserta teks,
misalnya, sebaiknya munculkan secara bersamaan alias simultan. Jangan
satu-satu, sebab akan memberikan kesan terpisah atau tidak terkait satu sama
lain. Begitu kata Mayer.
4) Prinsip
Koherensi
Orang belajar
lebih baik ketika kata-kata, gambar, suara, video, animasi yang tidak perlu dan
tidak relevan tidak digunakan. Nah, ini yang sering terjadi. Banyak sekali
pengembang media mencantumkan sesuatu yang tidak perlu. Mungkin maksudnya untuk
mempercantik tampilan, memperindah suasana atau menarik perhatian mata. Tapi,
menurut Mayer, hal ini sebaiknya dihindari. Cantumkan saja apa yang perlu dan
relevan dengan apa yang disajikan. Jangan macam-macam.
5) Prinsip
Modalitas Belajar
Orang belajar
lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi plus
teks pada layar. Jadi, lebih baik animasi atau video plus narasi daripada sudah
ada narasi ditambah pula dengan teks yang panjang. Hal ini, sangat mengganggu.
6) Prinsip
Redudansi
Orang belajar
lebih baik dari animasi dan narasi termasuk video), daripada dari animasi,
narasi plus teks pada layar (redundan). Sama dengan prinsip di atas. Jangan
redudansi, kalau sudah diwakili oleh narasi dan gambar/animasi, janganlah
tumpang tindih pula dengan teks yang panjang.
7) Prinsip
Personalisasi
Orang belajar
lebih baik dari teks atau kata-kata yang bersifat komunikatif (conversational)
daripada kalimat yang lebih bersifat formal. Lebih baik menggunakan
kata-kata lugas dan enak daripada bahasa teoritis, oleh karena itu,
sebaiknya gunakan bahasa yang komunikatif dan sedikit ber-style.
8) Prinsip
Interaktivitas
Orang belajar
lebih baik ketika ia dapat mengendalikan sendiri apa yang sedang dipelajarinya
(manipulatif: simulasi, game, branching). Sebenarnya, orang belajar itu tidak
selalu linier alias urut satu persatu. Dalam kenyataannya lebih banyak loncat
dari satu hal ke hal lain. Oleh karena itu, multimedia pembelajaran harus
memungkinkan user/pengguna dapat mengendalikan penggunaan daripada media itu
sendiri. dengan kata lain, lebih manipulatif (dalam arti dapat dikendalikan
sendiri oleh user) akan lebih baik. Simulasi, branching, game, navigasi yang konsisten
dan jelas, bahasa yang komunikatif, dan lain-lain akan memungkinkan tingkat
interaktivitas makin tinggi.
9) Prinsip
Sinyal
Orang belajar
lebih baik ketika kata-kata, diikuti dengan cue, highlight, penekanan yang
relevan terhadap apa yang disajikan. Kita bisa memanfaatkan warna, animasi dan
lain-lain untuk menunjukkan penekanan, highlight atau pusat perhatian (focus of
interest). Karena itu kombinasi penggunaan media yang relevan sangat penting
sebagai isyarat atau kata keterangan yag memperkenalkan sesuatu.
10) Prinsip Perbedaan
Individu
9 prinsip tersebut berpengaruh kuat bagi mereka yang
memiliki modalitas visual tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
Kombinasi teks dan narasi plus visual berpengaruh kuat bagi mereka yang
memiliki modalitas auditori tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
Kombinasi teks, visual dan simulasi berpengaruh kuat bagi mereka yang memiliki
modalitas kinestetik tinggi, kurang berpengaruh bagi yang sebaliknya.
11) Prinsip Praktek
Interaksi adalah
hal terbaik untuk belajar,kerja praktek dalam memecahkan masalah dapat
meningkatkan cara belajar dan pemahaman yang lebih mendalam tentang materi yang
sedang dipelajari.
12) Pengandaian
Menjelaskan
materi dengan audio meningkatkan belajar. Siswa belajar lebih baik dari animasi
dan narasi, daripada dari animasi dan teks pada layar.
Rosch menyatakan bahwa multimedia adalah
kombinasi dari komputer dan video. Sementara Mc. Cormick mendefinisikan
multimedia sebagai kombinasi dari tiga elemen, yaitu suara, gambar, dan teks.
Robin & Linda mengartikan multimedia sebagai alat yang dapat menciptkakan
presentasi yang dinamis dan interaktif yang mengkombinasikan teks, grafik,
animasi, auido, dan gambar video (Suyanto,2003:5). Ade Cahyana dan Devi
Munandar (2008) memberikan definisi teknologi multimedia sebagai perpaduan dari
teknologi komputer baik perangkat keras maupun perangkat lunak dengan teknologi
elektronik. Menurut keduanya sekarang ini perkembangan serta pemanfaatan
teknologi multimedia banyak digunakan hampir di seluruh aspek kegiatan.
Dalam buku yang berjudul ”The
Developers Handbook to Interaktive Multimedia”, Rob Philip (1997: 8)
menjelaskan :
”The term ‘multimedia’ is a
catch-all phrase to describe the new wave of computer software that primarily
deals with the provisions of information. The ’multimedia’ component is
characterized by the presence of text, picture, sound, animation and video;
some or all wich are organized into some coherence program. The ‘interactive’
component refers to the process of empowering the user to control the
environment usually by a computer.”
Berdasarkan beberapa pendapat di
atas, dapat disimpulkan bahwa multimedia merupakan perpaduan dari beberapa
elemen informasi yang dapat berupa teks, gambar, suara, animasi, dan video.
Program multimedia biasanya bersifat interaktif.
Beberapa prinsip yang harus
diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran meliputi: prinsip kesiapan
dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, pengulangan, partisipasi aktif
peserta didik, dan umpan balik (Gafur, 2007: 20-22).
Prinsip kesiapan dan motivasi
menekankan bahwa kesiapan dan motivasi peserta didik untuk menerima informasi
pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keberhasilan proses belajar mengajar.
Kesiapan peserta didik mencakup kesiapan pengetahuan prasyarat, kesiapan
mental, dan kesiapan fisik. Motivasi merupakan dorongan untuk melakukan atau
mengikuti kegiatan belajar. Motivasi tersebut dapat berasal dari dalam diri
maupun dari luar diri peserta didik (Gafur, 2007: 20).
Penggunaan alat pemusat perhatian
dalam media pembelajaran dapat menjadi daya tarik tersendiri bagi peserta didik
untuk fokus terhadap materi pelajaran. Hal ini membantu konsentrasi peserta
didik dalam memahami isi pelajaran sehingga penguasaan mereka menjadi lebih
baik.
Informasi atau keterampilan baru
jarang sekali dapat dikuasai secara maksimal hanya dengan satu kali proses
belajar. Agar penguasaan terhadap informasi atau keterampilan baru tersebut
dapat lebih optimal, maka perlu dilakukan bebrapa kali pengulangan. Prinsip
pengulangan ini harus diperhatikan dalam mengembangkan media pembelajaran.
Proses belajar mengajar akan lebih
berhasil manakala terjadi interaksi dua arah antara pengajar dan peserta didik.
Partisipasi aktif peserta didik dalam pembelajaran dapat meningkatkan pemahaman
dan penguasaan materi pelajaran. Oleh karena itu media pembelajaran yang
digunakan hendaknya mampu menimbulkan keterlibatan peserta didik secara aktif
(interaktif) dalam proses belajar
Umpan balik yang diberikan oleh
pengajar secara tepat dapat menjadi pendorong bagi peserta didik untuk selalu
meningkatkan prestasinya. Untuk itu, pengajar harus memberikan respon umpan
balik secara berkala terhadap kemajuan belajar peserta didik (Gafur, 2007: 20).
Prinsip-prinsip
tersebut di atas dapat diakomodasi dalam sebuah media pembelajaran berupa
multimedia pembelajaran interaktif dan web pembelajaran
Pemilihan
Media Pembelajaran
Untuk
menghasilkan media pembelajaran yang baik perlu dilakukan dengan menempuh
prosedur yang benar dalam proses pengembangannya. Soulier sebagaimana dikutip
oleh Sunaryo Sunarto (2002) menjelaskan bahwa tahapan pengembangan media
khususnya yang berbantuan komputer meliputi plan, development, dan evaluation.
William
W Lee dalam bukunya Multimedia Based Instructinal Design menguraikan lima tahap prosedur pengembangan
media yang meliputi analysis, design, development, implementation, dan
evaluation (2004: 161).
a) Analysis
Sebelum
mengembangkan media, terlebih dahulu harus dilakukan analisis kebutuhan.
Analisis kebutuhan dapat dilakukan dengan cara observasi lapangan atau melalui
kajian pustaka.
b) Design
Tahap
desain mencakup desain pembelajaran dan desain produk media. Tahap desain
pembelajaran meliputi komponen: identitas, standar kompetensi dan kompetensi
dasar, materi pokok, strategi pembelajaran, rancangan evaluasi, dan sumber
bahan. Sedangkan desain produk media
mencakup elemen: struktur diagram alir, storyboard, dan elemen gambar
atau animasi.
c) Development
Tahap
ini adalah tahapan produksi media sesuai dengan desain yang direncanakan. Pada
tahap ini dilakukan assembling (perakitan) berbagai elemen media yang
diperlukan menjadi satu kesatuan media utuh yang siap digunakan.
d) Evaluation
Evaluasi
terhadap media pembelajaran dilakukan dengan dengan cara validasi oleh ahli
materi dan ahli media, untuk mengetahui kualitas media yang telah dihasilkan.
Selain dengan validasi ahli, evaluasi juga dilakukan dalam bentuk ujicoba oleh
pengguna. Ujicoba media dilakukan dengan tiga tahap, yaitu ujicoba perorangan,
ujicoba kelompok kecil, dan ujicoba lapangan.
Ujicoba
perorangan dilakukan terhadap seorang peserta didik yang mewakili kelompok yang
akan menjadi pengguna media tersebut. Untuk keperluan ujicoba, sebaiknya
dipilih peserta didik yang kemampuannya sedikit di bawah kemampuan rata-rata.
Ujicoba
terhadap kelompok kecil dilakukan setelah adanya revisi berdasarkan hasil
ujicoba perorangan. Ujicoba kelompok kecil ini diberikan terhadap 5-8 peserta
didik yang memiliki kemampuan rata-rata kelompok. Setelah ujicoba kelompok
kecil selesai, maka perlu dilakukan perbaikan atau revisi sesuai dengan temuan
yang ada.
Ujicoba
lapangan dilakukan terhadap kelompok peserta didik yang menjadi target
penggunaan media, dalam situasi belajar yang sebenarnya. Jika tidak
memungkinkan untuk mengujicobakan terhadap seluruh peserta didik secara
lengkap, maka dapat diambil sampel sejumlah 20-30 orang.
Sung
Heum Lee (1999) menawarkan lima dimensi dalam uji penggunaan multimedia
interaktif. Lima dimensi yang harus diuji adalah: learnability, performance
efetiveness, flexibility, error tolerance & system integrity, dan user
satisfaction. Dimensi learnabilitybertujuan mengetahui tingkat kemampuan
pengguna dalam mengoperasikan sistem untuk menghasilkan penguasaan kompetensi
yang diharapkan. Performance effectivenessdimaksudkan untuk mengukur kemudahan
penggunaan sistem secara kuantitatif. Flexsibilityterkait dengan sejauh mana
sistem memungkinkan user untuk mencapai tujuannya. Error tolerance & system
integrity dimaksudkan untuk menguji toleransi kesalahan dalam menggunakan
sistem dan atau kemampuan sistem dalam mencegah kehilangan dan korupsi data.
Dimensi user satisfaction dimaksudkan untuk mengukur persepsi, perasaan, dan
opini pengguna tentang sistem yang dihasilkan
Prinsip
Pemilihan Media Pembelajaran
Prinsip-prinsip
pemilihan media pembelajaran merujuk pada pertimbangan seorang guru dalam
memilih dan menggunakan media pembelajaran untuk digunakan atau dimanfaatkan
dalam kegiatan belajar mengajar. Hal ini disebabkan adanya beraneka ragam media
yang dapat digunakan atau dimanfaatkan dalam kegiatan belajar mengajar.
Menurut Rumampuk (1988:19) bahwa
prinsip-prinsip pemilihan media adalah:
(1) harus diketahui dengan jelas media itu
dipilih untuk tujuan apa.
(2) pemilihan media hams secara objektif, bukan
semata-mata didasarkan atas kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan atau
hiburan. pemilihan media itu benar-benar didasarkan atas pertimbangan untuk
meningkatkan efektivitas belajar siswa.
(3) tidak ada satu pun media dipakai untuk mencapai
semua tujuan. Setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan. Untuk menggunakan
media dalam kegiatan belajar mengajar hendaknya dipilih secara tepat dengan
melihat kelebihan media untuk mencapai tujuan pengajaran tertentu
(4) pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan
metode mengajar dan materi pengajaran, mengingat media merupakan bagian yang
integral dalam proses belajar mengajar
(5) untuk dapat memilih media dengan tepat, guru
hendaknya mengenal ciri-ciri dan masing-masing media.
(6) pemilihan media hendaknya disesuaikan dengan
kondisi fisik lingkungan.
Sedangkan Ibrahim (1991:24)
menyatakan beberapa pedoman yang dapat digunakan untuk memilih media
pembelajaran, antara lain:
(1) sebelum memilih media pembelajaran, guru
harus menyadari bahwa tidak ada satupun media yang paling baik untuk mencapai
semua tujuan. masing-masing media mempunyai kelebihan dan kelemahan. penggunaan
berbagai macam media pembelaiaran yang disusun secara serasi dalam proses
belajar mengajar akan mengefektifkan pencapaian tujuan pembelajaran
(2) pemilihan media hendaknya dilakukan secara
objektif, artinya benar-benar digunakan dengan dasar pertimbangan efektivitas
belajar siswa, bukan karena kesenangan guru atau sekedar sebagai selingan
(3) pernilihan media hendaknya memperhatikan
syarat-syarat (a) sesuai dengan tujuan pembelajaran yang akan dicapai, (b)
ketersediaan bahan media, (c) biaya pengadaan, dan (d) kualitas atau mutu
teknik.
Berikutnya
Brown, Lewis, dan Harcleroad (1983: 76-77) menyatakan bahwa dalam memilih media
kriterianya sebagai berikut:
1. Isi
5. Kualitas teknis
2. Tujuan
6. Keadaan Penggunaan
3. Appropriatness
7. Verifikasi Pelajar
4. Biaya;
8. Validasi
Menurut
Asyhar (2011:82), prinsip pemilihan media adalah sebagai berikut :
(1) Kesesuaian, media yang dipilih harus
sesuai dengan tujuan pembelajaran, karakteristik peserta didik dan materi yang
dipelajari, serta metode atau pengalaman belajar yang diberikan pada peserta
didik.
(2) Kejelasan sajian, materi yang
disajikan dalam media pembelajaran harus jelas dengan menggunakan kata – kata
yang tepat, variasi huruf dan warna yang jelas sehingga lebih mudah untuk
dipahami siswa
(3) Kemudahan akses, dalam pembuatan
media pembelajaran juga harus diperhatikan bagaimana akses atau perangkat yang
mendukung media tersebut agar tidak menjadi kendala dalam penggunaannya
(4) Keterjangkauan, dalam hal ini
berkaitan dengan biaya yang akan dikeluarkan dalam pembuatan media. Media yang
dibuat harus disesuaikan dengan kemampuan si pembuatnya.
(5) Ketersediaan, hal ini perlu
dipertimbangkan dalam memilih media. Jadi harus tersedia media pengganti jika
suatu media yang akan digunakan tidak tersedia
(6) Kualitas, Dalam hal ini sebaiknya
dipilih media yang berkualitas tinggi.
(7) Ada alternatif, bahwa guru tidak
hanya tergantung pada media tertentu saja tapi harus kreatif dan inovatif dalam
melakukan pemilihan dan pengadaan media pembelajaran
(8) Interaktifitas, media yang baik
adalah media yang dapat memberikan komunikasi dua arah secara interaktif
(9) Organisasi, dalam pembuatan media
juga harus mendapat dukungan organisasi yang terkait.
(10) Kebaruan, semakin baru media yang
digunakan semakin baik dan menarik bagi
siswa.
(11) Berorientasi siswa, perlu dipertimbangkan
keuntungan dan kemudahan apa yang akan diperoleh siswa dengan media tersebut.
Jadi
dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip pemilihan media pembelajaran adalah:
(1) media yang dipilih harus sesuai dengan
tujuan dan materi pelajaran, metode mengajar yang digunakan serta karakteristik
siswa yang belajar (tingkat pengetahuan siswa, bahasa siswa, dan jumlah siswa
yang belajar)
(2) untuk dapat memilih media dengan tepat, guru
harus mengenal ciri-ciri dan tiap tiap media pembelajaran
(3) pemilihan media pembelajaran harus
berorientasi pada siswa yang belajar, artinya pemilihan media untuk
meningkatkan efektivitas belajar siswa
(4) pemilihan media harus mempertimbangkan biaya
pengadaan, ketersediaan bahan media, mutu media, dan lingkungan fisik tempat
siswa belajar
Peran
pembelajar adalah menyediakan, menunjukkan, membimbing dan memotivasi pebelajar
agar mereka dapat berinteraksi
dengan berbagai sumber
belajar yang ada. Bukan
hanya sumber belajar yang
berupa orang ,
melainkan juga sumber-sumber
belajar yang lain.
Bukan hanya sumber belajar yang sengaja
dirancang untuk keperluan
belajar, melainkan juga
sumber belajar yang telah
tersedia. Semua sumber belajar
itu dapat kita
temukan, kita pilih
dan kita manfaatkan
sebagai sumber belajar bagi pebelajar kita.
Wujud interaksi
antara pebelajar dengan
sumber belajar dapat
bermacam-macam. Cara belajar dengan mendengarkan
ceramah dari pembelajar memang merupakan
salah satu wujud
interaksi tersebut. Namun
belajar hanya dengan
mendengarkan saja, patut
diragukan efektifitasnya. Belajar hanya
akan efektif jika
si pebelajar diberikan banyak
kesempatan untuk melakukan
sesuatu, melalui multi-metode dan
multi-media. Melalui berbagai metode dan media pembelajaran, pebelajar akan dapat banyak berinteraksi
secara aktif dengan memanfaatkan segala potensi yang dimiliki pebelajar.
Barangkali perlu direnungkan
kembali ungkapan populer
yang mengatakan :
Saya mendengar saya
lupa, Saya melihat saya ingat, Saya berbuat maka saya bisa.
Pemilihan Media
Dalam
kegiatan pembelajaran kita harus menentukan media yang akan digunakan, memilih
media yang terbaik untuk tujuan pembelajaran bukanlah pekerjaan yang mudah.
Pemilihan itu rumit dan sulit, karena harus mempertimbangkan berbagai faktor.
1. Model pemilihan media
Anderson (1976)
mengemukakan adanya dua
pendekatan/model dalam proses
pemilihan media pembelajaran,
yaitu: model pemilihan tertutup dan model pemilihan terbuka. Pemilihan tertutup
terjadi apabila alternatif media
telah ditentukan "dari
atas" (misalnya oleh Dinas
Pendidikan), sehingga mau tidak mau jenis media itulah yang harus
dipakai. Kalau toh kita memilih, maka yang kita lakukan lebih banyak ke
arah pemilihan topik/pokok
bahasan mana yang cocok untuk
dimediakan pada jenis tertentu. Misalnya saja,
telah ditetapkan bahwa
media yang digunakan
adalah media audio.
Dalam situasi demikian, bukanlah mempertanyakan mengapa media audio yang
digunakan.
Model pemilihan
terbuka merupakan kebalikan
dari pemilihan tertutup.
Artinya, kita masih
bebas memilih jenis mediaapa saja yang sesuai dengan kebutuhan kita.
Alternatif media masih terbuka luas. Proses
pemilihan terbuka lebih
luwes sifatnya karena
benar-benar kita sesuaikan
dengan kebutuhan dan kondisi
yang ada. Namun proses
pemilihan terbuka ini
menuntut kemampuan dan
keterampilan pembelajaruntuk melakukan proses pemilihan. Seorang
pembelajarkadang bisa melakukan pemilihan media dengan mengkombinasikan antara
pemilihan terbuka dengan pemilihan tertutup.
2. Alasan pemilihan media
Media pada
hakekatnya merupakan salah
satu komponen sistem
pembelajaran. Sebagai komponen,
media hendaknya merupakan
bagian integral dan
harus sesuai dengan
proses pembelajaran secara menyeluruh.
Akhir dari pemilihan
media adalah penggunaaan
media tersebut dalam kegiatan pembelajaran, sehingga
memungkinkan pebelajardapat
berinteraksi dengan media yang kita pilih.
Jika kita
telah menentukan alternatif
media yang akan
kita gunakan dalam
pembelajaran, selanjutnya sudah tersediakah media tersebut di sekolah
atau di pasaran? Jika sudah tersedia, maka kita
tinggal meminjam atau
membelinya saja. Itupun jika
media yang ada
memang sesuai dengan tujuan
pembelajaran yang telah
kita rencanakan, dan
terjangkau harganya. Jika
media yang kita butuhkan temyata
belum tersedia, mau
tak mau kita
harus membuat sendiri program
media sesuai keperluan tersebut.
Pemilihan media itu
perlu kita lakukan
agar dapat menentukan media
yang terbaik, tepat
dan sesuai dengan kebutuhan dan kondisi sasaran didik. Untuk itu,
pemilihan jenis media harus dilakukan dengan
prosedur yang benar,
karena begitu banyak
jenis media dengan
berbagai kelebihan dan kelemahan masing-masing.
Prinsip Pengembangan Multimedia Pembelajaran
Beberapa
prinsip yang harus diperhatikan dalam pengembangan media pembelajaran meliputi:
prinsip kesiapan dan motivasi, penggunaan alat pemusat perhatian, pengulangan,
partisipasi aktif peserta didik, dan umpan balik.
Prinsip
kesiapan dan motivasi menekankan bahwa kesiapan dan motivasi peserta didik
untuk menerima informasi pembelajaran sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
proses belajar mengajar. Kesiapan peserta didik mencakup kesiapan pengetahuan
prasyarat, kesiapan mental, dan kesiapan fisik. Motivasi merupakan dorongan
untuk melakukan atau mengikuti kegiatan belajar. Motivasi tersebut dapat
berasal dari dalam diri maupun dari luar diri peserta didik.
PERMASALAHAN :
Bagaimanakah kita mendesain media pembelajaran seperti menggunakan power point tetapi tetap mengikuti prinsip prinsip multimedia pembelajaran dan PPT kreatif dan berstyle serta bisa digunakan pada saat formal?
PERMASALAHAN :
Bagaimanakah kita mendesain media pembelajaran seperti menggunakan power point tetapi tetap mengikuti prinsip prinsip multimedia pembelajaran dan PPT kreatif dan berstyle serta bisa digunakan pada saat formal?
DAFTAR
PUSTAKA