
A.
Pembelajaran Berbantuan Multimedia
Multimedia
mengandung unsur komputer. Multimedia memberikan kesempatan untuk belajar tidak
hanya dari satu sumber seperti guru, akan tetapi memberikan kesempatan kepada
subyek mengembangkan kognitif dengan lebih baik, kreatif, dan inovatif. Meyer
(2009:3) mendefinisikan multimedia sebagai presentasi materi dengan menggunakan
kata-kata sekaligus gambar-gambar. Yang dimaksud dengan “kata” adalah materinya
disajikan dalam bentuk verbal (verbal form), misalnya menggunakan teks
kata yang tercetak atau terucapkan. Sedangkan yang dimaksud dengan “gambar”
adalah materi disajikan dalam bentuk gambar (pictorial form).
Menurut
Constantinescu (2007: 2), “Multimedia refers to computer-based systems that
use various types of content, such as text, audio, video, graphics, animation,
and interactivity”. Multimedia adalah media yang menggabungkan dua unsur
atau lebih yang terdiri dari teks, grafis, gambar, foto, audio, video, dan
animasi secara terintegrasi. Multimedia terbagi menjadi dua kategori, yaitu
multimedia linier dan multimedia interaktif. Multimedia linier adalah suatu multimedia
yang tidak dilengkapi dengan alat pengontrol apapun yang dapat dioperasikan
oleh pengguna. Sedangkan multimedia interaktif adalah suatu multimedia yang
dilengkapi dengan alat pengontrol yang dapat dioperasikan oleh pengguna,
sehingga pengguna dapat memilih apa yang dikehendaki untuk proses selanjutnya.
Contoh multimedia interaktif adalah: multimedia pembelajaran interaktif,
aplikasi game, dan lain-lain.
Pembelajaran
diartikan sebagai proses penciptaan lingkungan memungkinkan terjadinya proses
belajar. Jadi dalam pembelajaran yang utama adalah bagaimana siswa belajar.
Belajar dalam pengertian aktivitas mental siswa dalam berinteraksi dengan
lingkungan yang menghasilkan perubahan perilaku yang bersifat relatif konstan.
Dengan demikian aspek yang menjadi penting dalam aktivitas belajar dan
pembelajaran adalah lingkungan. Bagaimana lingkungan ini diciptakan dengan
menata unsur-unsurnya sehingga dapat merubah perilaku siswa.
Dari
uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran berbantuan multimedia dapat
diartikan sebagai aplikasi multimedia yang digunakan dalam proses pembelajaran,
dengan kata lain untuk menyalurkan pesan (pengetahuan, ketrampilan dan sikap)
serta dapat merangsang pikiran, perasaan, perhatian dan kemauan yang belajar
sehingga secara sengaja proses belajar terjadi, bertujuan dan terkendali.
B. Teori Pembelajaran Pemrosesan Informasi Robert Gagne
Robert. M. Gagne sebagaimana yang dikutip oleh
Bambang Warsita, dalam bukunya: The Conditioning of Learning mengemukakan
bahwa” Learning is a change in human disposition or capacity, wich persists
over a period time, and wich is not simply ascribable to process of growth”.
Belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah belajar
secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan saja.
Gagne menyatakan bahwa belajar merupakan seperangkat proses yang bersifat
internal bagi setiap individu sebagai hasil transformasi rangsangan yang
berasal dari peristiwa eksternal di lingkungan individu yang bersangkutan
(kondisi) (Warsito, 2008: 66).
Penjelasan lebih lanjut dari Bambang Warsita,
bahwa berdasarkan kondisi internal dan eksternal ini, Gagne menjelaskan
bagaimana proses belajar itu terjadi. Model proses belajar yang dikembangkan
oleh Gagne didasarkan pada teori pemrosesan informasi, yaitu sebagai berikut:
1. Rangsangan yang diterima panca indera akan
disalurkan ke pusat syaraf dan diproses sebagai informasi.
2. Informasi dipilih secara selektif, ada yang
dibuang, ada yang disimpan dalam memori jangka pendek, dan ada yang disimpan
dalam memori jangka panjang.
3. Memori-memori ini tercampur dengan memori
yang telah ada sebelumnya, dan dapat diungkap kembali setelah dilakukan
pengolahan (Warsito,
2008; 69)
Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan
bahwa belajar adalah perubahan yang terjadi dalam kemampuan manusia setelah
belajar secara terus menerus, bukan hanya disebabkan oleh proses pertumbuhan
saja.
C. Model Pemrosesan Informasi
Model proses kontrol pemrosesan informasi dapat
diliha pada Gambar di bawah ini
Gambar 1. Model proses
kontrol pemrosesan informasi (Meyer 2009: 68)
a.
Short-Term Sensory Store
Sistem ini berfungsi untuk menyimpan sejumlah besar informasi yang
diterima dalam waktu yang singkat. Kompartemen dari sistem ini memerima tampa
mencatatnya, dan dalam waktu yang singkat akan hilang karena penambahan
informasi baru. Hal ini dapat kita andaikan , sebuah setrika yang sudah agak
panas yang kemudian panasnya berkurang dan sama sekali “hilang”. Sistem
tersebut akan diterpa oleh berbbagai bentuk stimulus-penglihatan, perabaan, pendengaran,
kinesthesis, dan seterusnya. Terdapat kemungkinan, berbagai rangsang sensoris yang
berasal dari luar itu diterima secara simultan dan masing masing rangsang
tersimpan selama waktu yang singkat.
b.
Short-Term Memory
Informasi yang masuk pada sistem penyimpangan jangka pendek tidak semua
diproses pada tahap berikutnya, karena adanya penyaringan terhadap informasi
yang relevan dan tidak relevan. Proses seleksi ini ditentukan oleh kondisi
tugas yang dilakukan seseorang (misalnya mengamati perjalanan shuttlecock dalam
permainan bulu tangkis) atau oleh momen tertentu dalam suatu tugas (mula – mula
penglihatan, kemudian pendengaran seperti kerasnya suara”cocok” dipukul).
Informasi yang akan diproses ketahap berikutnya ialah karena kesesuaian dengan
suatu situasi untuk diproses kedalam sistem memori jangka pendek (STM). Memori
ini merupakan tempat penyimpanan informasi, bagi yang berasal dari Short-Term
Sensory Store (STSS) maupun yang berasal dari Long-term Memory (LTM).
c.
Long-term Memory
Kompartemen memori jangka pendek jangka panjang adalah jumlah waktu
dari informasi yang dapat disimpan selain kemempuan menyimpan informasi.
Bedasarkan teori kotak memori dapat dijelaskan bahwa aktifitas memproses
informasi disalurkan dari penyimpanan jangka pendek ke penyimpanan jangka
panjang, dimana informasi akan tersimpan secara permanen supaya tidak hilang
(Budiningsih, 2005: 82)
D.
Model Pemrosesan Informasi dari Gagne dan
Berliner
Gambar
2 Model pemrosesan informasi dari Gagne dan Berliner
Keterangan:
1. Sensory
Receptor (SR)
SR adalah sel
tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Di dalam SR informasi
ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya bertahan dalam waktu yang
sangat singkat dan mudah tergangu atau berganti.
2. Working Memory (WM)
WM diasumsikan
mampu menangkap informasi yang mendapat perhatian individu, perhatian
dipengaruhi oleh persepsi. Karekateristik WM, memiliki kapasitas terbatas + 7
slots dan hanya bertahan 15 detik jika tidak diadakan pengulangan, dan
informasi dapat disandi dalam bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya.
3. Long Term
Memory (LTM)
LTM
diasumsikan: 1) berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oelh individu, 2)
mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali informasi disimpan di
dalam LTM, ia tidak akan pernah terhapus atau hilang. Sedangkan lupa adalah
proses gagalnya memunculkan kembali informasi yang diperlukan. Tennyson
mengemukakan proses penyimpanan informasi merupakan proses mengasimilisasikan
pengetahuan baru pada pengetahuan yang telah dimiliki, yang selanjutnya
berfungsi sebagai dadar pengetahuan.
Belajar didefinisikan sebagai perubahan perilaku seseorang dalam situasi tertentu yang disebabkan oleh “pengalaman berulang” terhadap situasi tersebut. Dalam tinjauan psikologi kognitif belajar diartikan sebagai The process of acquiring knowledge (proses memperoleh pengetahuan). Pengalaman yang dimaksud adalah pengalaman hidup yang dialami oleh si pelajar agar menjadi mandiri. Belajar erat kaitannya dengan pengembangankognitif (penguasaan intelektual), afektif (berhubungan dengan sikap dan nilai) danpsikomotorik (keterampilan bertindak atau berprilaku). Dalam pandangan pakar psikologi belajar kognitifis, keberhasilan belajar di ukur oleh kematangan kognisi si pelajar, dalam hal ini otak sebagai organ tubuh yang berkaitan dengan intelejensi, menjadi sangat dominan sebagai pusat memori.
Teori
pembelajaran pemrosesan informasi adalah bagian dari teori belajar
sibernetik. Secara sederhana pengertian belajar menurut teori belajar
sibernetik adalah pengolahan informasi. Dalam teori ini, seperti
psikologi kognitif, bagi sibernetik mengkaji proses belajar penting
dari hasil belajar, namun yang lebih penting dari kajian proses belajar
itu sendiri adalah sistem informasi, sistem informasi inilah yang pada
akhirnya akan menentukan proses belajar.
Teori sibernetik berasumsi bahwa tidak ada satu proses belajar pun
yang ideal untuk segala situasi, dan yang cocok untuk semua siswa.
Asumsi ini didasarkan pada suatu pemahaman yaitu cara belajar sangat
ditentukan oleh sistem informasi. Dengan penjelasan saat seorang siswa
dapat memperoleh informasi dengan satu proses dan siswa yang lain juga
dapat memperoleh informasi yang sama namun dengan proses belajar yang
berbeda.Menurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
Menurut
Gagne tahapan proses pembelajaran meliputi delapan fase yaitu, (1) motivasi;
(2) pemahaman; (3) pemerolehan; (4) penyimpanan; (5) ingatan kembali; (6)
generalisasi; (7) perlakuan dan (8) umpan balik. Teori pemrosesan informasi
adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan pemrosesan, penyimpanan,
dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin, 2000: 175). Teori ini
menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi dan dapat diingat
dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan suatu strategi
belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses di dalam otak
melalui beberapa indera.
Dalam
upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima,
disandi, disimpan dan dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika
diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi
oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson
(1989).
Kompenen
pemrosesan dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk
informasi, serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah
Sensory receptor, Working memory dan Long tern memory.
Sedangkan
proses control diasumsikan sebgai strategi yang tersimpan didalam ingatan dan
dapat dipergunakan setiap saat di perlukan.
Ø Pengertian Teori Pemrosesan Informasi
Teori
pemrosesan informasi adalah teori kognitif tentang belajar yang menjelaskan
pemrosesan, penyimpanan, dan pemanggilan kembali pengetahuan dari otak (Slavin,
2000). Teori ini menjelaskan bagaimana seseorang memperoleh sejumlah informasi
dan dapat diingat dalam waktu yang cukup lama. Oleh karena itu perlu menerapkan
suatu strategi belajar tertentu yang dapat memudahkan semua informasi diproses
di dalam otak melalui beberapa indera.
Komponen
pertama dari sistem memori yang dijumpai oleh informasi yang masuk adalah
registrasi penginderaan. Registrasi penginderaan menerima sejumlah besar
informasi dari indera dan menyimpannya dalam waktu yang sangat singkat, tidak
lebih dari dua detik. Bila tidak terjadi suatu proses terhadap informasi yang
disimpan dalam register penginderaan, maka dengan cepat informasi itu akan
hilang.
Keberadaan
register penginderaan mempunyai dua implikasi penting dalam pendidikan.
Pertama, orang harus menaruh perhatian pada suatu informasi bila informasi itu
harus diingat. Kedua, seseorang memerlukan waktu untuk membawa semua informasi
yang dilihat dalam waktu singkat masuk ke dalam kesadaran, (Slavin, 2000: 176).
Interpretasi
seseorang terhadap rangsangan dikatakan sebagai persepsi. Persepsi dari
stimulus tidak langsung seperti penerimaan stimulus, karena persepsi
dipengaruhi status mental, pengalaman masa lalu, pengetahuan, motivasi, dan
banyak faktor lain.
Informasi
yang dipersepsi seseorang dan mendapat perhatian, akan ditransfer ke komponen
kedua dari sistem memori, yaitu memori jangka pendek. Memori jangka pendek
adalah sistem penyimpanan informasi dalam jumlah terbatas hanya dalam beberapa
detik. Satu cara untuk menyimpan informasi dalam memori jangka pendek adalah
memikirkan tentang informasi itu atau mengungkapkannya berkali-kali. Guru
mengalokasikan waktu untuk pengulangan selama mengajar.
Memori
jangka panjang merupakan bagian dari sistem memori tempat menyimpan informasi
untuk periode panjang. Tulving (1993) dalam (Slavin, 2000: 181) membagi memori
jangka panjang menjadi tiga bagian, yaitu memori episodik, yaitu bagian memori
jangka panjang yang menyimpan gambaran dari pengalaman-pangalaman pribadi kita,
memori semantik, yaitu suatu bagian dari memori jangka panjang yang menyimpan
fakta dan pengetahuan umum, dan memori prosedural adalah memori yang menyimpan
informasi tentang bagaimana melakukan sesuatu.
Dalam
upaya menjelaskan bagaimana suatu informasi (pesan pengajaran) diterima,
disandi, disimpan dan dimunculkan kembali dari ingatan serta dimanfaatkan jika
diperlukan, telah dikembangkan sejumlah teori dan model pemrosesan informasi
oleh para pakar seperti Biehler dan Snowman (1986); Baine (1986); dan Tennyson
(1989). Teori-teori tersebut umumnya berpijak pada tiga asumsi (Lusiana, 1992)
yaitu:
a. Bahwa
antara stimulus dan respon terdapat suatu seri tahapan pemrosesan informasi
dimana pada masing-masing tahapan dibutuhkan sejumlah waktu tertentu.
b. Stimulus
yang diproses melalui tahapan-tahapan tadi akan mengalami perubahan bentuk
ataupun isinya.
c. Salah
satu dari tahapan mempunyai kapasitas yang terbatas.
Dari
ketiga asumsi tersebut,dikembangkan teori tentang komponen struktur dan
pengatur alur pemrosesan informasi (proses control). Kompenen pemrosesan
dipilih menjadi tiga berdasarkan perbedaan fungsi, kapasitas, bentuk informasi,
serta proses terjadinya”lupa”. Ketiga komponen tersebut adalah:
1. Sensory
receptor
Sensory Receptor (SR) merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima
dari luar. informasi masuk ke sistem melalui
sensory register Di dalam SR informasi ditangkap dalam bentuk aslinya,
informasi hanya dapat bertahan dalam waktu yang sangat singkat, dan informasi
tadi mudah terganggu dengan kata lain sangat mudah berganti. Agar tetap
berada dalam sistem, informasi masuk ke
working memory yang digabungkan dengan informasi di long-term
memory.
2. Working
memory
Pengerjaan
atau operasi informasi berlangsung di working memory. Disini, berlangsung
proses berpikir secara sadar. Working Memory (WM) diasumsikan
mampu menangkap informasi yang diberi perhatian (attention) oleh individu.
Pemberian perhatian ini dipengaruhi oleh peran persepsi. Karakteristik WM
adalah bahwa; 1) ia memiliki kapasitas yang terbatas, lebih kurang 7 slots.
Informasi di dalamnya hanya mampu bertahan kurang lebih 15 detik apabila tanpa
upaya pengulangan atau rehearsal. 2) informasi dapat disandi dalam
bentuk yang berbeda dari stimulus aslinya. Asumsi pertama berkaitan dengan
penataan jumlah informasi, sedangkan asumsi kedua berkaitan dengan peran proses
kontrol. Artinya, agar informasi dapat bertahan dalam WM, maka upayakan jumlah
informasi tidak melebihi kapasitas WM disamping melakukan rehearsal.
Sedangkan penyandian pada tahapan WM, dalam bentuk verbal, visual, ataupun
semantik, dipengaruhi oleh peran proses kontrol dan seseorang dapat dengan
sadar mengendalikannya.
3. Long
term memory
Long
Term Memory (LTM) diasumsikan; 1) berisi semua pengetahuan yang telahdimiliki
oleh individu, 2) mempunyai kapasitas tidak terbatas, dan 3) bahwa sekali
informasi disimpan di dalam LTM ia tidak akan pernah terhapus atau hilang.
Kelemahannya adalah betapa sulit mengakses informasi yang
tersimpan di dalamnya. Persoalan “lupa” pada tahapan ini disebabkan oleh
kesulitan atau kegagalan memunculkan kembali (retrieval failure) informasi yang
diperlukan. Ini berarti, jika informasi ditata dengan baik maka akan memudahkan
proses penelusuran dan pemunculan kembali informasi jika diperlukan.
Dikemukakan oleh Howard (1983) bahwa informasi disimpan di dalam LTM dalam
bentuk prototipe, yaitu suatu struktur representasi pengetahuan yang telah
dimiliki yang berfungsi sebagai kerangka untuk mengkaitkan pengetahuan baru.
Dengan ungkapan lain, Tennyson (1989) mengemukakan bahwa proses penyimpanan
informasi merupakan proses mengasimilasikan pengetahuan baru pada pengetahuan
yang telah dimiliki, yang selanjutnya berfungsi sebagai dasar pengetahuan
(knowledge base) (Lusiana, 1992).
Sejalan
dengan teori pemrosesan informasi, Ausubel (1968) mengemukakan bahwa perolehan
pengetahuan baru merupakan fungsi srtuktur kognitif yang telah dimiliki
individu. Reigeluth dan Stein (1983) mengatakan pengetahuan ditata didalam
struktur kognitif secara hirarkhis. Ini berarti pengetahuan yang lebih umum dan
abstrak yang diperoleh lebih dulu oleh individu dapat mempermudah perolehan
pengetahuan baru yang rinci Proses pengolahan informasi dalam ingatan dimulai
dari proses penyandian informasi (encoding), diikuti dengan penyimpanan
informasi (storage), dan diakhiri dengan mengungkapkan kembali
informasi-informasi yang telah disimpan dalam ingatan (retrieval). Ingatan
terdiri dari struktur informasi yang terorganisasi dan proses penelusuran
bergerak secara hirarkhis, dari informasi yang paling umum dan inklusif ke
informasi yang paling umum dan rinci, sampai informasi yang diinginkan
diperoleh.
Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :
Teori belajar pemrosesan informasi mendeskripsikan tindakan belajar merupakan proses internal yang mencakup beberapa tahapan. Sembilan tahapan dalam peristiwa pembelajaran sebagai cara-cara eksternal yang berpotensi mendukung proses-proses internal dalam kegiatan belajar adalah :
1. Menarik
perhatian
2. Memberitahukan
tujuan pembelajaran kepada siswa
3. Merangsang
ingatan pada pra syarat belajar
4. Menyajikan
bahan peransang
5. Memberikan
bimbingan belajar
6. Mendorong
unjuk kerja
7. Memberikan
balikan informatif
8. Menilai
unjuk kerja
9. Meningkatkan
retensi dan alih belajar
Dalam mengartikan
penyampaian informasi dengan multimedia perlu dibedakan apa yang disebut dengan
media pengantar, desain pesan, serta kemampuan sensorik. Media pengantar
mengacu pada sistem yang dipakai untuk menyajikan informasi, misalnya media
berbasiskan media cetakan atau media berbasiskan komputer. Desain pesan mengacu
pada bentuk yang digunakan untuk menyajikan informasi, misalnya pemakaian
animasi atau teks audio. Kemampuan sensorik mengacu pada jalur pemrosesan
informasi yang dipakai untuk memproses informasi yang diperoleh, seperti proses
penerimaan informasi visual atau auditorial.
Sebagai
contoh, suatu paparan tentang bagaimana sistem sesuatu alat bekerja dapat
dipresentasikan melalui teks tertulis dalam buku atau melalui teks di layar
komputer (dua media yang berbeda), dalam bentuk rangkaian kata-kata atau
kombinasi kata-kata dan gambar (dua desain pesan yang berbeda), atau dalam
bentuk kata-kata tertulis atau lisan (dua sensorik yang berbeda). Sebenarnya
istilah desain pesan mengacu pada proses manipulasi, atau rencana manipulasi
dari sebuah pola tanda yang memungkinkan untuk mengkondisi
pemerolehan informasi. Penelitian telah menemukan bukti bahwa desain pesan
yang berbeda pada multimedia instruksional mempengaruhi kualitas performansi .
Beberapa
teori yang melandasi perancangan desain pesan multimedia instruksional
ialah teori pengkodean ganda, teori muatan kognitif, dan teori pemrosesan
ganda. Menurut teori pengkodean ganda manusia memiliki sistem memori kerja yang
terpisah untuk informasi verbal dan informasi visual, memori kerja terdiri atas
memori kerja visual dan memori kerja auditori. Teori muatan kognitif
menyatakan bahwa setiap memori kerja memiliki kapasitas yang terbatas.
Sedangkan teori pemrosesan ganda menyatakan bahwa penyampaian informasi lewat
multimedia instruksional baru bermakna jika informasi yang diterima diseleksi
pada setiap penyimpanan, diorganisasikan ke dalam representasi yang
berhubungan, serta dikoneksikan dalam tiap penyimpanan . Temuan-temuan
penelitian telah menguji kebenaran teori pengkodean ganda (dual-coding theory):
terdapat dua buah saluran pemrosesan informasi yang independent yaitu
pemrosesan informasi visual (atau memori kerja visual) dan pemrosesan informasi
verbal (atau memori kerja verbal); kedua memori kerja tersebut memiliki
kapasitas yang terbatas untuk memroses informasi yang masuk. Hal terpenting
yang dinyatakan oleh teori muatan kognitif adalah sebuah gagasan bahwa
kemampuan terbatas memori kerja, visual maupun auditori, seharusnya menjadi
pokok pikiran ketika seseorang hendak mendesain sesuatu pesan multimedia.
Menurut model tingkat
pemrosesan, berbagai stimulus informasi diproses dalam berbagai tingkat
kedalaman secara bersamaan bergantung kepada karakternya. Semakin dalam suatu
informasi diolah, maka informasi tersebut akan semakin lama diingat. Sebagai
contoh, informasi yang mempunyai imaji visual yang kuat atau banyak berasosiasi
dengan pengetahuan yang telah ada akan diproses secara lebih dalam. Demikian
juga informasi yang sedang diamati akan lebih dalam diproses daripada stimuli
atau kejadian lain di luar pengamatan. Dengan kata lain, manusia akan lebih
mengingat hal-hal yang mempunyai arti bagi dirinya atau hal-hal yang menjadi
perhatiannya karena hal-hal tersebut diproses secara lebih mendalam daripada
stimuli yang tidak mempunyai arti atau tidak menjadi perhatiannya (Craik &
Lockhart, 2002).
Ø Manfaat dan Hambatan Teori Pemrosesan Informasi
1. Manfaat teori pemrosesan informasi antara lain:
1.
Membantu terjadinya proses pembelajaran sehungga individu mampu beradaptasi
pada lingkungan yang selalu berubah
2. Menjadikan
strategi pembelajaran dengan menggunakan cara berpikir yang berorientasi pada
proses lebih menonjol
3. Kapasilitas
belajar dapat disajikan secara lengkap
4. Prinsip
perbedaan individual terlayani.
2. Hambatan teori pemrosesan informasi antara lain:
1. Tidak
semua individu mampu melatih memori secara maksimal
2. Proses
internal yang tidak dapat diamati secara langsung
3. Tingkat
kesulitan mengungkap kembali informasi-informsi yang telah disimpan dalam
ingatan
4. Kemampuan
otak tiap individu tidak sama.
PERMASALAHAN
1. Apakah bisa suatu informasi yang masuk pada sensory receptor dapat
menjadi informasi yang masuk pada long term memory? jika bisa, bagaimana
hal tersebut dapat terjadi?
2. Bagaimana memunculkan informasi yang ada di memori jangka pendek agar menjadi memori jangka panjang?
SUMBER
Anonim.2011. Teori-Pemrosesan-Informasi.
https://blogzulkifli.wordpress.com/2011/06/08/teori-pemrosesan-informasi/
Anonim.2014. Teori-Pemrosesan-Informasi-.http://rini0594.blogspot.co.id/2014/03/teori-pemrosesan-informasi-dalam.html
Craik, F. I. M., Lockhart. R. S. 2002.
Levels of Processing. New York: Cyber Pasific
Slavin, R.E. 2000. Educational
Psychology, Theory and Practice. United State of America: Allyn & Bacon
http://dewisugiarti122.blogspot.co.id/2017/02/teori-pemrosesan-informasi-berbantuan_70.html

Saya akan mencoba menjawab permasalahan anda yang ke-2 Ketika kita mampu mengolah suatu informasi atau suatu pengetahuan “saat ini” hal tersebut menandakan bahwa LTM kita sedang berfungsi. Dengan adanya LTM kita akan lebih mampu mengingat masa lalu dan masa kini.
BalasHapusLantas, dimanakah memori-memori tersebut disimpan? Banyak sekali studi-studi yang mencoba untuk mencari jejak-jejak memori kita. Seperti teknik pencitraan otak (pemindaian PET, MRI, dan perekaman EEG), probing elektrik ke dalam otak , atau bahkan menggunakan senyawa-senyawa kimiawi dalam bentuk obat-obatan, dan lain sebagainya. Lokasi tempat memori disimpan adalah diseluruh bagian otak, dengan pusat-pusat tertentu. Dalam pembentukan memori, terdapat beberapa bagian otak yang bekerja seperti hipokampus dan korteks. Rekognisi memori dipengaruhi oleh tingkat penyandian awal, yakni ketika peristiwa tersebut terjadi dan pengulangannya. Sejumlah pengalaman lebih mudah diingat dibandingkan dengan pengalaman yang lain. Sebagai contoh pengalaman menyenangkan, melibatkan ego, atau yang bersifat traumatik akan lebih mudah diingat oleh kita dan bertahan lama.
terimakasih atas pendapat anda , Rekognisi memori dipengaruhi oleh tingkat penyandian awal, yakni ketika peristiwa tersebut terjadi dan pengulangannya. Sejumlah pengalaman lebih mudah diingat dibandingkan dengan pengalaman yang lain. Sebagai contoh pengalaman menyenangkan, melibatkan ego, atau yang bersifat traumatik akan lebih mudah diingat oleh kita dan bertahan lama.
HapusSaya akan menambahkan jawaban dari permaslahan nomor 2, yg mana. Ingtan sensoris menyimpan informasi dari dunia dalam bentik sensoris aslinya dalam sekejap. Tidak lebih lama dari waktu yang singkat pada saat informasi itu sampai pada indra penglihatan, pendengaran atau indra lainnya. Ingatan sensoris sangat kaya dan detail, tetapi informasi ini akan hilang dengan cepat kecuali kita menggunakan strategi tertentu untuk menyalurkan ke ingatan jangka pendek atau jangka panjang.
BalasHapusIngatan jangka pendek ( shot term memory) adalah sistem ingatan dengan kapasitas terbatas saat informasi dipertahankan selama sekitar 30 detik, kecuali ada strategi tertentu untuk mempertahankannya lebih lama. Dibandingkan dengan ingatan sensoris, ingatan jangka pendek terbatas dalam hal kapasitasnya, tetapi dapat menyimpan informasi untuk jangka waktu yang lebih lama.
ya saya setuju , bisakah anda jelaskan beserta dengan sumber nya
HapusSaya akan menambahkan jawaban dari permaslahan nomor 2, yg mana. Ingtan sensoris menyimpan informasi dari dunia dalam bentik sensoris aslinya dalam sekejap. Tidak lebih lama dari waktu yang singkat pada saat informasi itu sampai pada indra penglihatan, pendengaran atau indra lainnya. Ingatan sensoris sangat kaya dan detail, tetapi informasi ini akan hilang dengan cepat kecuali kita menggunakan strategi tertentu untuk menyalurkan ke ingatan jangka pendek atau jangka panjang.
BalasHapusIngatan jangka pendek ( shot term memory) adalah sistem ingatan dengan kapasitas terbatas saat informasi dipertahankan selama sekitar 30 detik, kecuali ada strategi tertentu untuk mempertahankannya lebih lama. Dibandingkan dengan ingatan sensoris, ingatan jangka pendek terbatas dalam hal kapasitasnya, tetapi dapat menyimpan informasi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Saya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang pertama. Tentu bisa karena sensory reseptor saling keterkaitan dengan pemrosesan informasi yang diterima dan melalui beberapa tahapan agar sampai ke long-term memory yaitu melalui short-term memory terlebih dahulu dan memori kerja.
BalasHapusSemua informasi sensoris (kecuali bau yang langsung menuju amygdala dan tujuan-tujuan lainnya) pertama kali dikirimkan ke thalamus, yang secara singkat memonitor sifat dan kekuatan impuls-impuls sensoris untuk mengetahui daya tahan konten informasi yang dibawanya dan hanya dalam waktu milidetik (seperseribu detik), menggunakan pengalaman yang sebelumnya dimiliki individu, menentukan tingkat kepentingan data.
Penyimpanan sensoris merupakan register sensoris yang menyimpan informasi dalam waktu yang sangat singkat (kurang dari satu detik).
Perbedaan memori jangka panjang dan penyimpanan jangka panjang adalah memori jangka panjang mengacu pada proses penyimpanan dan mengambil/mengingat informasi sedangkan penyimpanan jangka panjang mengacu pada area dalam otak tempat memori disimpan.
ya memang benar Semua informasi sensoris (kecuali bau yang langsung menuju amygdala dan tujuan-tujuan lainnya) pertama kali dikirimkan ke thalamus, yang secara singkat memonitor sifat dan kekuatan impuls-impuls sensoris untuk mengetahui daya tahan konten informasi yang dibawanya dan hanya dalam waktu milidetik (seperseribu detik), menggunakan pengalaman yang sebelumnya dimiliki individu, menentukan tingkat kepentingan data.
HapusSaya mencoba menjawab pertanyaan no.2, berdasarkan literatur yg saya baca proses masuknya informasi ke dalam ingatan jangka panjang tetap melalui tahap memori sensoris. Pada tahap ini informasi dari luar yang diterima oleh indera diubah menjadi impuls-impuls neural sesuai dengan masing-masing fungsi indera, kemudian impuls-impuls neural yang mengandung informasi ini diteruskan ke ingatan jangka pendek. Setelah informasi masuk ke dalam ingatan jangka pendek, di seleksi sedemikian rupa mana yang dianggap penting dan tidak, kemudian diteruskan ke ingatan jangka panjang.
BalasHapusSebelum masuk ke ingatan jangka panjang, informasi yang telah disaring pada ingatan jangka pendek, perlu dilakukan proses semantic atau imagery coding. Jadi, ingatan jangka panjang akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat dan sebagainya, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen. Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam memori jangka panjang adalah untuk Anda ingat selamanya.
ya saya setuju , memang benar ingatan jangka panjang akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat dan sebagainya
Hapussaya ingin mencoba menjawab pertanyaan pertama saudari. suau informasi sebelum masuk ke long term memory memang akan melalui sensory dahulu dimana informasi diterima oleh alat indera baru kemudian informasi akan masuk ke short term memory setelah itu dilanjutkan ke long term memory. di long term memory inilah informasi disimpang dalam jangka panjang sehingga ketika mendapatkan rangsangan dari luar yang ada kaitannya dengan informasi ini maka otak akan berusaha mengingat informasi ini kaena informasi yang tersimpan tidak akan hilang, jadi sangat erat kaitannya informasi tidak akan sampai ke penyimpanan jangka pannjang jika tida melewati reseptor sensorik.
BalasHapusjadi apakah ada seseuatu cara atau media agar siswa dapat memory long term?
Hapussaya akan mencoba menjawab pertanyaan permasalahan nomor 1 :
BalasHapusmenurut saya bisa dikarenakan Sensori receptor merupakan sel tempat pertama kali informasi diterima dari luar. Informasi masuk ke system melalui sensori register di dalam sarana informasi ditangkap dalam bentuk aslinya, informasi hanya dapat bertahan dlam waktu yang sangat singkat dan informasi mudah terganggu. Karena melalui sensori receptor perlu sarana informasi supaya dapat mudah ditangkap dalam bentuk aslinya. setelah masuk ke sensori reseptor informasi tidak akan bertahan lama , masuk ke Working memori merupakan pengerjaan atau operasi berlangsung di working memori. Karena disini, berlangsungnya proses berfikir anak secara sadar. Jadi anak usia dini dalam melakukan sesuatu yang akan dilakukan seperti menggunakan media dalam belajar dilakukan secara sadar karena dapat menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu anak.kemudian baru masuk ke long term memory yang diasumsikan yaitu berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, mempunyai kapasitas tidak terbatas karena informasi yang disimpan dalam long term memori ini tidak akan pernah terhapus ataupun hilang. Karena informasi yang diberikan pada anak usia dini ditata dengan baik supaya memudahkan proses pembelajaran dalam informasi yang diperlukan oleh anak.
ya saya setuju berlangsungnya proses berfikir anak secara sadar. Jadi anak usia dini dalam melakukan sesuatu yang akan dilakukan seperti menggunakan media dalam belajar dilakukan secara sadar karena dapat menangkap informasi yang diberi perhatian oleh individu anak.kemudian baru masuk ke long term memory yang diasumsikan yaitu berisi semua pengetahuan yang telah dimiliki oleh individu, mempunyai kapasitas tidak terbatas karena informasi yang disimpan dalam long term memori ini tidak akan pernah terhapus ataupun hilang.
HapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan no 1
BalasHapusMenurut saya bisa dengan cara melatih otak kita agar setiap rangsangam yang diterima oleh reseptor atau alat indera kita agar segera dioleh dan dihubungkan dengan pengetahuan kita yang lama agar dapat diolah menjadi pengetahuan baru yang lebih luas. Kemudia setiap ilmu yang kita dapat diulang serta disandikan atau dikode menjadi pengetahuan yang lebih mudah diingat atau dipahami. Dengan begitu tentu pengetahuan tersebut akan menjadi pengetahuan yang tersimpan dimemori jangka panjang kita.
ya terimakasih atas ulasan anda tentang permasalahan yang telah saya paparkan , ya memang sesuatu yang diulang ylang akan membantu dalam memori long term
HapusSaya mencoba menjawab pertanyaan no.2, berdasarkan literatur yg saya baca proses masuknya informasi ke dalam ingatan jangka panjang tetap melalui tahap memori sensoris. Pada tahap ini informasi dari luar yang diterima oleh indera diubah menjadi impuls-impuls neural sesuai dengan masing-masing fungsi indera, kemudian impuls-impuls neural yang mengandung informasi ini diteruskan ke ingatan jangka pendek. Setelah informasi masuk ke dalam ingatan jangka pendek, di seleksi sedemikian rupa mana yang dianggap penting dan tidak, kemudian diteruskan ke ingatan jangka panjang.
BalasHapusSebelum masuk ke ingatan jangka panjang, informasi yang telah disaring pada ingatan jangka pendek, perlu dilakukan proses semantic atau imagery coding. Jadi, ingatan jangka panjang akan melakukan penyaringan informasi berdasarkan arti dari informasi tersebut, makna, keadaan emosi, gambaran akibat dan sebagainya, oleh karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen. Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam memori jangka panjang adalah untuk Anda ingat selamanya.
ya memang benar , karena itu penyimpanan informasi dapat berlangsung secara permanen. Tujuan sebuah informasi dimasukkan ke dalam memori jangka panjang adalah untuk Anda ingat selamanya.
HapusSaya akan menjawab permasahan pertama Short Term Memory sering kali mengacu sebagai memori kerja karena kegunaannya di berbagai aktivitas mental. Memori kerja adalah sistem untuk menyimpan sementara dan mengelola informasi yang diperlukan untuk melaksanakan tugas-tugas kognitif kompleks seperti belajar, penalaran, dan pemahaman. Memori kerja berbeda dari Short Term Memory dalam hal penyimpanan dan manipulasi informasi, dan dalam penekanan pada peran fungsionalnya dalam kognisi kompleks
BalasHapusya saya setuju , tapi saya masih ragu mungkin belum terlalu detail tentang hal penyimpanan dan manipulasi informasi, dan dalam penekanan pada peran fungsionalnya dalam kognisi kompleks
HapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang nomor 1. Tentu saja bisa karena sensory reseptor saling keterkaitan dengan pemrosesan informasi yang diterima dan melalui beberapa tahapan agar sampai ke long-term memory yaitu melalui short-term memory terlebih dahulu dan memori kerja.
BalasHapusSemua informasi sensoris (kecuali bau yang langsung menuju amygdala dan tujuan-tujuan lainnya) pertama kali dikirimkan ke thalamus, yang secara singkat memonitor sifat dan kekuatan impuls-impuls sensoris untuk mengetahui daya tahan konten informasi yang dibawanya dan hanya dalam waktu milidetik (seperseribu detik), menggunakan pengalaman yang sebelumnya dimiliki individu, menentukan tingkat kepentingan data.
ya benar , tapi bisakah anda jelaskan beserta sumber terpecaya?
HapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan Anda yang nomor 1. Tentu saja bisa karena sensory reseptor saling keterkaitan dengan pemrosesan informasi yang diterima dan melalui beberapa tahapan agar sampai ke long-term memory yaitu melalui short-term memory terlebih dahulu dan memori kerja.
BalasHapusSemua informasi sensoris (kecuali bau yang langsung menuju amygdala dan tujuan-tujuan lainnya) pertama kali dikirimkan ke thalamus, yang secara singkat memonitor sifat dan kekuatan impuls-impuls sensoris untuk mengetahui daya tahan konten informasi yang dibawanya dan hanya dalam waktu milidetik (seperseribu detik), menggunakan pengalaman yang sebelumnya dimiliki individu, menentukan tingkat kepentingan data.
Baiklah saya akan menjawab permasalahan nomer 2..sebenarya ada banyak cara guru untuk memunculkan ingatan memori jangka pendek kita ke dalam memori jangka panjang kita.misalmya ketika guru masuk kepada materi yang selanjutnya,sebaik nya guru mengulas sedikit materinyang suddah di ajarkan kemarin agar supaya siswa nya terangsang untuk menginat memori jangka pendek nya ke dalam memori jangka panjang nya
BalasHapusya memang setuju , apalagi disertai dengan media yang meningkatkan minat dari siswa
Hapussaya akan menambahkan sedikit tentang permasalahan yang pertama, jadi menurut saya tentu saja bisa yaitu dengan cara agar informasi atau ilmu yang kita terima dapat masuk ke dalam memori jangka panjang adalah dengan mengulang-ulang pelajaran yang telah kita lakukan, jadi maksud nya disini adalah kalau sudah belajar yang kita pelajari sebaiknya diulangi lagi. jangan cuma sewaktu disekolah mempelajarinya. memang informasi yang diterima itu masuk ke dalam sensori memori. kemudian kalau selalu kita ulangi maka akan masuk dalam memori jangka pangjang.
BalasHapusya ,memang benar apalagi seorang guru yang mampu mengatur pembelajaran dengan lebih baik disertai dengan media
HapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan kedua. Perlu diketahui bahwa lupa dapat terjadi karena kurang fokus atau informasi yang tidak diproses lebih lanjut. Jadi untuk mengubah memori jangka pendek ke jangka panjang yaitu dengan membuat peserta didik mengerti dan paham dengan baik akan materi yang diajarkan dan terus melakukan pengulangan dimana turut ditunjang media pembelajaran yang menarik.
BalasHapusSaya akan mencoba menjawab permasalahan kedua. Perlu diketahui bahwa lupa dapat terjadi karena kurang fokus atau informasi yang tidak diproses lebih lanjut. Jadi untuk mengubah memori jangka pendek ke jangka panjang yaitu dengan membuat peserta didik mengerti dan paham dengan baik akan materi yang diajarkan dan terus melakukan pengulangan dimana turut ditunjang media pembelajaran yang menarik.
BalasHapusDari permasalahan nomor 2.menurut saya, memori jangka pendek akan menjadi memori jangka panjang apabila kita sering mengulang ngulang materi yang telah dipelajari disekolah dipelajari dirumah dengan telaten dan berangsur angsur.
BalasHapusMenurut Gagne bahwa dalam pembelajaran terjadi proses penerimaan informasi, untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. Dalam pemrosesan informasi terjadi adanya interaksi antara kondisi-kondisi internal dan kondisi-kondisi eksternal individu. Kondisi internal yaitu keadaan dalam diri individu yang diperlukan untuk mencapai hasil belajar dan proses kognitif yang terjadi dalam individu. Sedangkan kondisi eksternal adalah rangsangan dari lingkungan yang mempengaruhi individu dalam proses pembelajaran.
BalasHapus