Beberapa
masalah yang terjadi dalam pembelajaran kimia di SMA adalah keterbatasan sumber
belajar yang ada yaitu hanya dengan menggunakan buku teks, banyak terdapat
konsep-konsep abstrak, lemahnya interaksi antara guru dan siswa di dalam kelas,
kecepatan dan gaya belajar siswa yang berbeda-beda dan keterbatasan waktu yang
tersedia dalam pembelajaran di
kelas. Ken dn Middlecap (1994)
mengemukakan bahwa untuk dapat memahami suatu konsep dengan utuh, kita harus
mengenal konsep tersebut baik dari tingkat makroskopis maupun mikroskopisnya. Solusi
yang diharapkan mampuatau dapat mengatasi masalah-masalah tersebut adalah dengan
mengembangkan bahan ajar berbasis e-learning.
Kemajuan dan kehadiran teknologi
informasi dan komunikasi (TIK) dewasa ini memberi-kan peluang dan sekaligus
tantangan bagi dunia pendidikan. Salah satu peluang dan tantangan ini berupa
pemanfaatan TIK untuk mendukung proses belajar mengajar. Peluang yang dimak-sud
adalah adanya kemungkinan meningkatkan hasil belajar dengan memanfaatkan TIK.
Ada-pun tantangannya adalah tuntutan kemauan dan kemampuan untuk memanfaatkan
TIK guna meningkatkan hasil belajar. Pemanfaatan TIK dalam pembelajaran
menuntut dukungan kebi-jakan institusi, sarana dan prasarana, perangkat
hardware dan software, serta brainware, yakni sumber daya manusia (SDM) yang
memiliki kemampuan mengelola dan menggunakan TIK.
Salah satu bentuk pemantaatan TIK
dalam pembelajaran adalah e-learning. Istilah e-learn-ing dalam beberapa tahun
terakhir ini merupakan istilah yang popluer di kalangan dunia pen-didikan,
khususnya di perguruan tinggi. Beberapa perguruan tinggi bahkan menjadikan
e-learning sebagai nilai tambah yang menjadi kebanggaan untuk menarik calon
mahasiswa. Seo-lah keberadaan e-learning di sebuah perguruan tinggi menjadi
indikator bahwa pergururan tinggi tersebut merupakan perguruan tinggi “modern”
dengan fasilitas dan infrastruktur TIK yang membanggakan. Terlebih lagi dengan
keberadaan sistem-sistem informasi online lainnya seperti sistem informasi
akademik, sistem administrasi online, perpustakaan online (e-library), dan
lain-lain.
Bahan ajar yang tersedia di sekolah
biasanya hanya berupa buku teks. Menurut Direktorat Pembinaan Sekolah Menemgah
dan Atas (2010), bahn ajar dalah segala bentuk bahan berupa seperangkat materi
yng tersusun secara sistemtis untuk membantu guru/ instruktur dalam
melaksanakan kegiatan pembelajaran dan memungkinkan siswa untuk belajar. Menurut Depdiknas (2008), bhn ajar dapat
dikembangkan dalam berbgi bentuk yang
disesuaikan dengan kebutuhan dajn karakteritik materi yang akan disajikan. Seiring
dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, penggunaan alat bantu media pembelajaran menjadi semakin luas dan
interaktif seperti penggunaan computer atau internet. Penggunan internet dalam prose
pembelajaran dikenal dengan istilah e-learning.
A.
Definisi
e-Learning
e-Learning atau pembelajaran
elektronik, merupakan salah satu bentuk dari aplikasi Teknologi Informasi dan
Komunikasi (TIK) dalam kegiatan pembelajaran. Adapun definisi e-Learning
menurut ahli :
“A broad combination of processes, content, and
infrastructure to use computers and networks to scale and/or improve one or
more significant parts of a learning value chain, including management and
delivery.” (Adrich dalam Clark : 2010)
Clark Adrich dalam bukunya yang
berjudul “Simulations and the Future of Learning” menekankan definisi
e-Learning pada kerangka berpikir penggunaan jaringan komputer. Ia menyatakan
bahwa e-Learning merupakan sebuah kombinasi antara proses, materi dan
infrastruktur dalam penggunaan komputer dan jaringannya dalam rangka
meningkatkan kualitas pada satu atau lebih bagian signifikan dari aspek-aspek
rangkaian kegiatan pembelajaran, termasuk di antaranya adalah aspek manajemen
dan aspek pendistribusian materi pelajaran.
e-Learning atau electronic learning
merupakan pembelajaran yang disajikan secara elektronik dengan menggunakan
komputer dan media berbasis komputer. Media komputer yang dimaksud di sini
lebih berorientasi pada penggunaan teknologi komputer dan internet.
“E-Learning
is a broad set of applications and processes which include web-based learning,
computer-based learning, virtual and digital classrooms. Much of this is
delivered via the Internet, intranets, audio and videotape, satellite
broadcast, interactive TV, and CD-ROM. The definition of e-Learning varies
depending on the organization and how it is used but basically it is involves
electronic means of communication, education, and training.” (The American
Society for Training and Development/ASTD: 2009)
Organisasi
Masyarakat Amerika untuk Kegiatan Pelatihan dan Pengembangan (The American
Society for Training and Development/ASTD) memberikan definisi umum yang
lebih spesifik terhadap metode maupun media yang digunakan dalam proses e-Learning.
Definisi ini dimuat dalam situs web about-elearning.com. Definisi
tersebut menyatakan bahwa e-Learning merupakan proses dan kegiatan
penerapan pembelajaran berbasis web (web-based learning), pembelajaran
berbasis komputer (computer based learning), pendidikan virtual (virtual
education) dan/atau kolaborasi digital (digital collaboration).
Materi-materi dalam kegiatan pembelajaran elektronik tersebut kebanyakan dihantarkan
melalui media internet, intranet, tape video atau audio, penyiaran
melalui satelit, televisi interaktif dan CD-ROM. Definisi ini juga menyatakan
bahwa definisi dari e-Learning bisa bervariasi tergantung dari
penyelenggara kegiatan e-Learning tersebut dan bagaimana cara
penggunaannya, termasuk juga apa tujuan penggunaannya.
e-Learning merupakan sistem
pembelajaran yang memanfaatkan media elektronik sebagai alat untuk membantu
kegiatan pembelajaran, yang dalam arti luas mencakup pembelajaran yang dilakukan
dengan media elektronik (internet) baik secara formal maupun informal. Secara
formal misalnya berupa kurikulum, silabus, mata pelajaran, dan tes yang telah
diatur sesuai jadwal oleh pihak-pihak terkait, yaitu pengelola e-Learning.
Dengan e-Learning pembelajaran akan
lebih menarik karena tampilan di layarnya bisa dibuat variatif yang menarik.
Pembelajaran ini dapat juga disebut pembelajaran jarak jauh yang dikelola oleh
Perguruan Tinggi dan biasanya perusahaan konsultan yang bergerak dibidang penyedia
jasa e-Learning untuk umum. Sedang secara informal misalnya melalui sarana
mailing list, e-newsletter atau web pribadi, dan perusahaan yang
mensosialisasikan untuk masyarakat, dan biasanya jasa seperti ini gratis.
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa
pembelajaran elektronik (e-Learning) merupakan kegiatan pembelajaran yang
memanfaatkan jaringan (internet, LAN, MAN, WAN) sebagai metode penyampaian,
interaksi, dan fasilitasi serta didukung oleh berbagai bentuk layanan belajar
elektronik lain.
B.
Fungsi dan
Tujuan e-Learning
1.
Fungsi
e-Learning
e-Learning sebagai suatu model pembelajaran yang baru
memiliki beberapa fungsi terhadap kegiatan pembelajaran di dalam kelas
(classroom instruction). Siahaan dalam Kamil (2010), memaparkan fungsi
e-Learning tersebut sebagai berikut:
a.
Suplemen; Dikatakan berfungsi
sebagai suplemen atau tambahan apabila peserta didik mempunyai kebebasan
memilih, apakah akan memanfaatkan materi pembelajaran elektronik atau tidak.
Dalam hal ini, tidak ada kewajiban/keharusan bagi peserta didik untuk mengakses
materi pembelajaran.
b.
Komplemen; Dikatakan berfungsi
sebagai komplemen atau pelengkap apabila materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk melengkapi materi pembelajaran yang diterima siswa di dalam
kelas (Lewis: 2002). Sebagai komplemen berarti materi pembelajaran elektronik
diprogramkan untuk menjadi materi reinforcement atau remedial bagi peserta
didik di dalam mengikuti kegiatan pembelajaran konvensional.
c.
Substitusi; Beberapa perguruan
tinggi di negara maju memberikan beberapa alternatif model kegiatan
pembelajaran/perkuliahan kepada para mahasiswanya. Tujuannya agar para
mahasiswa dapat secara fleksibel mengelola kegiatan perkuliahannya sesuai
dengan waktu dan aktivitas lain sehari-hari mahasiswa.
c.
2.
Tujuan
e-Learning
Tujuan e-Learning adalah untuk meningkatkan daya
serap dari para pembelajar atas materi yang diajarkan, meningkatkan
partisipasi aktif dari para pembelajar, meningkatkan kemampuan belajar
mandiri, dan meningkatkan kualitas materi pembelajaran. Diharapkan dapat
merangsang pertumbuhan inovasi baru para pembelajar sesuai dengan bidangnya
masing-masing. e-Learning merupakan alternatif pembelajaran yang relatif baru
untuk menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dengan menggunakan
berbagai fasilitas teknologi informasi, seperti teknologi komputer baik
hardware maupun software, teknologi jaringan seperti local area network dan
wide area network, dan teknologi telekomunikasi seperti radio, telepon, dan
satelit. Salah satu bagian dari kegiatan e-Learning yang menggunakan fasilitas
internet adalah distance learning, merupakan suatu proses pembelajaran, dimana
pengajar dan pembelajar tidak ada dalam satu ruangan kelas secara langsung pada
waktu tertentu; artinya kegiatan proses belajar mengajar dilakukan dari jarak
jauh atau tidak dalam satu ruangan kelas. Hal ini memungkinkan terjadinya
pembelajaran yang berkesinambungan, artinya pembelajar bisa belajar setiap saat,
balk slang maupun malam hari, tanpa dibatasi waktu perternuan. Berbagai peluang
tersebut diatas rnasih menghadapi berbagi tantangan baik dari kesiapan
iqfrastuktur teknologi informasi, masyarakat, dan peraturan yang mendukung
terhadap kelangsungan e-Learning. Dikemukakan juga sepintas mengenai peluang
dan tangangan media e-Learning, seperti pada media voice mail, audiotape,
audioconference, e-mail, online chat, web based education, videotape, satellite
videoconference, microwave videoconference, dan cable atau broadcast
television.
C.
Model-Model
e-Learning
Berdasarkan definisi dari ASTD,
e-Learning bisa dibagi ke dalam empat model, yaitu:
1. Web-Based
Learning (Pembelajaran Berbasis Web)
Pembelajaran
berbasis web merupakan “sistem pembelajaran jarak jauh berbasis teknologi
informasi dan komunikasi dengan antarmuka web” (Munir 2009:231). Dalam
pembelajaran berbasis web, peserta didik melakukan kegiatan pembelajaran secara
online melalui sebuah situs web. Merekapun bisa saling berkomunikasi dengan
rekan-rekan atau pengajar melalui fasilitas yang disediakan oleh situs web
tersebut.
2. Computer-Based
Learning (Pembelajaran Berbasis Komputer)
Secara
sederhana, pembelajaran berbasis komputer bisa didefinisikan sebagai kegiatan
pembelajaran mandiri yang bisa dilakukan oleh peserta didik dengan menggunakan
sebuah sistem komputer. Rusman (2009: 49) mengemukakan bahwa pembelajaran
berbasis komputer merupakan “... program pembelajaran yang digunakan dalam proses
pembelajaran dengan menggunakan software komputer yang berisi tentang judul,
tujuan, materi pembelajaran dan evaluasi pembelajaran.”
3. Virtual
Education (Pendidikan Virtual)
Berdasarkan definisi dari
Kurbel (2001), istilah pendidikan virtual merujuk kepada suatu kegiatan
pembelajaran yang terjadi di sebuah lingkungan belajar di mana pengajar dan
peserta didik terpisah oleh jarak dan/atau waktu. Pihak pengajar menyediakan
materi-materi pembelajaran melalui penggunaan beberapa metode seperti aplikasi
LMS, bahan-bahan multimedia, pemanfaatan internet, atau konferensi video.
Peserta didik menerima mater-materi pembelajaran tersebut dan berkomunikasi
dengan pengajarnya dengan memanfaatkan teknologi yang sama.
4. Digital
Collaboration (Kolaborasi Digital)
Kolaborasi
digital adalah suatu kegiatan di mana para peserta didik yang berasal dari
kelompok yang berbeda (kelas, sekolah atau bahkan negara bekerja) bersama-sama dalam
sebuah proyek/tugas, sambil berbagi ide dan informasi dengan seoptimal mungkin
memanfaatkan teknologi internet.
C.
Kelebihan
& Kekurangan e-Learning
e-Learning
memiliki kelebihan tersendiri bila
dipandang sebagai sebuah alternatif untuk model pembelajaran konvensional.
Lebih lanjut, Riyana (2007: 22) menyebutkan kelebihan-kelebihan tersebut
sebagai berikut:
1.
Interactivity (Interaktifitas); tersedianya jalur
komunikasi yang lebih banyak, baik secara langsung (synchronous),
seperti chatting atau messenger atau tidak langsung (asynchronous),
seperti forum, mailing list atau buku tamu.
2.
2. Independency (Kemandirian);
fleksibilitas dalam aspek penyediaan waktu, tempat, pengajar dan bahan ajar.
Hal ini menyebabkan pembelajaran menjadi lebih terpusat kepada siswa (student-centered
learning).
3.
Accessibility (Aksesibilitas);
sumber-sumber belajar menjadi lebih mudah diakses melalui pendistribusian di
jaringan Internet dengan akses yang lebih luas daripada pendistribusian sumber
belajar pada pembelajaran konvensional.
4.
Enrichment (Pengayaan); kegiatan pembelajaran,
presentasi materi kuliah dan materi pelatihan sebagai pengayaan, memungkinkan
penggunaan perangkat teknologi informasi seperti video streaming,
simulasi dan animasi.
Adapun kekurangan e-Learning, diantaranya:
1.
Untuk
sekolah tertentu terutama yang berada di daerah, akan memerlukan investasi yang
mahal untuk membangun e-Learning ini.
2.
Siswa yang tidak mempunyai motivasi belajar
yang tinggi cenderung gagal.
3.
Keterbatasan
jumlah komputer yang dimiliki oleh sekolah akan menghambat pelaksanaan
e-Learning.
4.
Bagi orang
yang gagap teknologi, sistem ini sulit untuk diterapkan.
5.
Materi tidak
sesuai dengan umur pebelajar.
6.
Pemanfaatan
hak cipta untuk tugas-tugas sekolah.
7.
Perkembangan
yang tidak terprediksikan.
8.
Pengaksesan
yang memerlukan sarana tambahan.
9.
Kecepatan
mengakses yang tidak stabil.
10.
Kurangnya
pengontrolan kualitas.
D.
Proses
Pengembangan e-Learning
pengembangan sebuah aplikasi e-Learning hendaknya
juga diarahkan agar mampu memenuhi empat filosofi e-Learning seperti
yang dikemukakan Cisco dalam Rusman (2009: 198) sebagai berikut:
1.
e-Learning merupakan penyampaian informasi,
komunikasi, pendidikan dan pelatihan secara online;
2.
e-Learning menyediakan seperangkat alat
yang dapat memperkaya nilai belajar secara konvensional (model belajar
konvensional, kajian terhadap buku teks, CD-ROM, dan pelatihan berbasis
komputer) sehingga dapat menjawab tantangan perkembangan globalisasi;
3.
e-Learning tidak berarti menggantikan model
belajar konvensional di dalam kelas, tetapi memperkuat model belajar tersebut
melalui pengayaan content dan pengembangan teknologi pendidikan;
4.
Kapasitas peserta didik amat
bervariasi tergantung pada bentuk, isi dan cara penyampaiannya. Makin baik
keselarasan antar content dan alat penyampai dengan gaya belajar, maka
akan lebih baik kapasitas peserta didik yang pada gilirannya akan memberikan
hasil yang baik.
E.
Pemanfaatan
e-Learning dalam Pembelajaran
1. Media
berbasis komputer
Teknologi komputer mengalami
kemajuan pesat dan luar biasa, baik dari segi hardware maupu softwarenya.
Seiring berkembanganya program-program serta aplikasi yang dapat dipasang,
komputer memberikan kelebihan dalam berbagai bidang kegiatan pembelajaran
seperti untuk produksi media slide, media gerak dan media audio visual. Kiranya
dalam era sekarang ini seorang pendidik haruslah mampu menguasai teknologi
komputer, meski masih dalam taraf sederhana. Teknologi komputer sangat membantu
dalam menciptakan berbagai kreatifitas produksi media pembelajaran, baik berupa
gerak, audio maupun visual. Berbagai macam software yang dapat digunakan antara
lain Power Point, Macromedia Flash, Movie dan lain-lain. Aplikasi-aplikasi
tersebut dapat digunakan dalam berbagai materi pembelajaran baik eksak, sosial
maupun materi agama selama seorang pendidik bisa menyusunnya sesuai kebutuhan dan
target-target materi dan pembelajaran yang hendak dicapai, dan tentu tetap
didasarkan pada pencapaian tiga ranah peserta didik berikut ini:
i.
Ranah
Kognitif
Dalam pencapaian ranah kognitif komputer dapat
digunakan untuk mengajarkan konsep-konsep, prinsip, langkah-langkah, proses,
dan kalkulasi yang kompleks. Komputer juga dapat menjelaskan konsep tersebut
dengan sederhana dengan penggabungan visual dan audio yang dianimasikan.
ii.
Ranah
Afektif
Ranah afektif bisa dicapai dengan menggunakan clip,
film, suara atau video yang isinya menggugah perasaan. Peserta didik diajak
untuk menghayati desain yang dibuat serta mengenalisis baik gambar atau suara.
iii.
Ranah
Psikomotorik
Ranah psikomotorik dapat dicapai dengan komputer
dengan bentuk pembelajaran yang dikemas dalam bentuk games & simulasi
sangat bagus digunakan untuk menciptakan kondisi dunia kerja. Beberapa contoh
program antara lain; simulasi pendaratan pesawat, simulasi perang dalam medan
yang paling berat dan sebagainya.
2. Media
berbasis internet
a. E-Mail
Elekktronic Mail atau yang lebih
dikenal dengan E-Mail yang dapat diartikan “Surat Elektronik”, merupakan surat
yang pengirimannya menggunakan sarana elektronik yakni dengan menggunakan
jaringan internet. Perlu diketahui bahwa pesan yang dikirim berbentuk suatu
dokumen atau teks bahkan gambar, tentunya yang dapat diterima oleh komputer
lain dengan sarana internet. Peserta didik dapat menggunakan e-mail untuk
mengumpulkan informasi yang berkaitan dengan tugas, dapat mengajukan
pertanyaan-pertanyaan kepada pendidik di luar kegiatan belajar mengajar, dan
dapat berkomunikasi lewat e-mail dengan teman-teman, guru, maupun yang
lainnya.
b. Blog
Istilah blog merupakan kependekan
dari web blog. Jika diidentifikasi dari penggalan katanya web dan log dapat
diartikan sebagai “catatan perjalanan” yang tersimpan dalam website. Blog dapat
dijadikan website yang berisikan materi pelajaran yang dituangkan dalam bentuk
tulisan, gambar, bahkan foto, maupun coretan warna warni yang membuatnya lebih
menarik. Blog sebagai media pembelajaran setidaknya ada tiga metode yang bisa
diupayakan yaitu:
1) Blog guru
sebagai pusat pembelajaran. Guru dapat menulis materi belajar, tugas, maupun
bahan diskusi di blognya kemudian murid bisa berdiskusi dan belajar
bersama-sama di blog gurunya tersebut.
2) Blog guru
dan murid yang saling berinteraksi. Guru dan murid harus memiliki blog
masing-masing sebagai sarana mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh
gurunya.
3) Komunitas
bloger pembelajar. Sebuah blog sebagai pusat pembelajaran dengan guru-guru dan
siswa dari berbagai sekolah bisa tergabung dalam komunitas blogger pembelajar
tersebut.
c. Mesin
Pencarian (Search Engine)
Search Engine adalah sebuah program
yang dapat diakses melalui internet yang berfungsi untuk membantu para pengguna
dalam mencari apa yang diinginkan, dengan kata lain search engine dirancang
khusus untuk menyimpan katalog dan menyusun daftar alamat berdasarkan topik
tertentu. Mesin pencarian ini dapat digunakan untuk mengakses berbagai bahan
belajar dan informasi melalui media internet. Telah tersedia banyak situs search
engine yang dapat digunakan untuk mencari informasi di internet, diantaranya
Yahoo, bing, amazon.com, eBay, Wikipedia, Babylon, dan google. Tetapi yang
sering kita gunakan adalah google, yang dapat diakses melalui
http://www.google.com. Untuk melakukan pencarian informasi yang diinginkan,
kita harus memasukkan kata kunci (keyword) pada kotak pencarian.
F.
Penerapan
e-Learning dalam Pembelajaran
Pembelajaran elektronik (e-Learning) telah dimulai pada
tahun 1970-an. Kegiatan belajar yang bagaimanakah yang dapat dikatakan
sebagai e-Learning? Apakah seseorang yang menggunakan komputer dalam
kegiatan belajarnya dan melakukan akses berbagai informasi (materi
pembelajaran) dari internet dapat dikatakan telah dikatakan e-Learning?.
Setidaknya ada 3 (tiga) hal penting sebagai persyaratan kegiatan belajar
elektronik (e-Learning), yaitu :
a. kegiatan pembelajaran
dilakukan melalui pemanfaatan jaringan (misalnya penggunaan internet)
b. tersedianya dukungan
layanan belajar yang dapat dimanfaatkan oleh peserta didik, misalnya CD-Room,
atau bahan cetak
c. tersedianya dukungan
layanan tutor yang dapat membantu peserta didik apabila mengalami kesulitan.
Di samping ketiga persyaratan tersebut masih dapat
ditambahkan persyaratan lainnya, seperti adanya : (a) lembaga yang mengelola
kegiatan e-Learning, (b) sikap positif dari peserta didik dan pendidik/tenaga
kependidikan terhadap teknologi komputer dan internet, (c)
rancangan sistem pembelajaran yang dapat dipelajari oleh setiap peserta didik,
(d) sistem evaluasi terhadap kemajuan atau perkembangan belajar peserta didik,
dan (e) mekanisme umpan balik yang dikembangkan oleh lembaga penyelenggara.
Ada beberapa pertimbangan untuk menggunakan e-Learning
dewasa ini, antara lain :
a. harga perangkat
komputer semakin lama semakin terjangkau (tidak lagi diperlakukan sebagai
barang mewah).
b. Peningkatan kemampuan
perangkat komputer dalam mengolah data lebih cepat dan kapasitas penyimpanan
data semakin besar
c. Memperluas akses atau
jaringan komunikasi
d. Memperpendek jarah dan
mempermudah komunikasi
e. Mempermudah pencarian
atau penelusuran informasi melalui internet.
Permasalahan :
1. apakah dengan pembelajaran e-learning siswa dapat lebih mudah belajar dan materi yang disampaikan dapat terserap dengan baik?
2. Sebagaimana yang kita ketahui, pengembangan e-learning dalam
pembelajaran dapat memudahkan peserta didik dengan bantuan internet.
Lalu bagaimana jika sekolah yang tidak memiliki fasilitas internet?
Alatbantu yang bagaimana yang digunakan supaya peserta didik tersebut
tetap paham dengan materi yang akan disampaikan!
SUMBER
Andi. Munir. 2009.
Pembelajaran Jarak Jauh. Bandung: Alfabeta.
Anitah, Sri. 2009. Media
Pembelajaran. Surakarta: UNS Press.
The American Society for Training and Development (ASTD).
(2012). Definition of e-Learning. [Online]. Tersedia:
http://www.about-elearning.com/definition-of-e-learning.html.
http://nellysarimartini55.blogspot.co.id/2017/02/pengembangan-e-learning-dalam.html